.

Apr 28, 2013

JK, Demokrat dan Pilpres 2014

Oleh : Atep Afia Hidayat - Adanya wacana mengenai dukungan beberapa petinggi Partai Demokrat (PD) untuk mengusung Muhammad Jusuf Kalla (JK) dalam Pemilihan Presiden 2014 merupakan hal yang sangat menarik. Meskipun di sisi lainnya ada juga petinggi Demokrat yang seolah “mentabukan” hal tersebut, bahkan ada yang berkomentar miring, “Bagai pungguk merindukan rembulan”, katanya.

Sementara pihak yang optimistik akan “nilai jual” JK berpandangan bahwa dengan modal menduduki beberapa posisi penting yang berkaitan dengan mayoritas rakyat seperti Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) dan Ketua Dewan Masjid Indonesia menjadikan JK memiliki keabsahan untuk dicalonkan menjadi orang nomor satu di republik ini. (Lihat di sini )

Kalangan manapun yang bersedia mencapreskan JK dalam Pemilu 2014 tentu saja memiliki pertimbangan logis. JK  yang pada tahun 2014 mendatang akan berusia 72 tahun, merupakan pria kelahiran  Watampone, Bone, Sulawesi Selatan. Sosok JK selain dikenal sebagai pengusaha sukses juga merupakan mantan Wakil Presiden (Wapres) dan pernah menjadi orang nomor satu di  Partai Golongan Karya (Golkar).

Saat mendampingi Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai Wapres (2004 – 2009), sepak terjang JK begitu fenomenal. Banyak persoalan nasional terselesaikan karena kepemimpinannya yang berorientasi pada tindakan. Selain itu, dalam Pilpres 2009 duet JK - Wiranto yang diusung Golkar dan Hanura menjadi pesaing SBY - Boediono. Dari catatan itu saja bisa disimbulkan, bahwa JK memang layak menjadi RI 1. 

Berdasarkan beberapa survei yang dilakukan, nama JK masih masuk papan atas tokoh yang populer dan layak dicapreskan, selain Megawati Soekarnoputri, Prabowo Soebianto, Aburizal Bakrie, Sultan Hamengkubuwono X, Wiranto, Surya Paloh, Hatta Rajasa dan Boediono. 

Jika mencermati hasil beberapa survei tersebut tentu timbul keprihatinan, terutama karena nyaris tidak ada tokoh muda (40 – 50 tahun) yang masuk tokoh populer untuk dicapreskan. Namun tua atau muda tentu saja bukan menjadi parameter kelayakan seseorang menjadi presiden, meskipun ada sindiran bahwa Presiden di Amerika Serikat makin lama makin muda, sedangkan di Indonesia makin lama makin tua. 

Memasuki tahun 2014 saat Pilpres digelar, selain JK yang akan berusia 72 tahun, ternyata Megawati memasuki usia 67 tahun, Prabowo 63, Aburizal 68, Wiranto 67, Surya Paloh 63, Hatta Rajasa 61 dan Boediono 71.

Bandingkan dengan Barack Obama yang terpilih menjadi Presiden AS ke-44 (2009 – 2013) pada saat berumur 48 tahun, dan Perdana Menteri Singapura, Lee Kwan Yew, yang mengundurkan diri pada saat berusia 67 tahun (tahun 1990).   Tidak heran saat muncul wacana pencapresan JK oleh demokrat, ada tokoh demokrat yang berkomentar “Mimpi kali ye. Itu usulan punduk merindukan bulan. Banyak kader di Demokrat. Ngapain dukung calon yang kedaluwarsa”. (Lihat di sini).

Ketiadaan tokoh muda dalam “papan atas”  daftar Capres 2014 menjadi bukti bahwa masyarakat masih belum mempercayai, bahkan makin skeptis dan pesimis ketika banyak politisi muda yang terjerat persoalan hukum.

Berdasarkan UUD 1945 masa jabatan Presiden RI hanya dua kali, dengan demikian SBY tidak akan mencalonkan diri lagi dalam Pilpres 2014. Secara fakta dan obyektif  memang di Demokrat hampir tidak ada tokoh “nomor 2” atau tokoh yang mendekati kapabilitas dan elektabilitas SBY. 

Tidak heran muncul wacana untuk mengusung JK, bahkan sebelumnya sempat muncul pencapresan Hatta Rajasa. Hal itu memberikan gambaran jika tanpa SBY, Demokrat “bagai anak ayam kehilangan induknya”, tak jauh berbeda dengan kondisi jika PDIP tanpa Megawati, Gerindra tanpa Prabowo, Hanura tanpa Wiranto, sementara sebelumnya PKB tanpa Gusdur dan PAN tanpa Amin Rais.

Jika ingin memperpanjang periode kekuasaannya atau sekedar mempertahankan tiga besar Partai Politik (Parpol) peraih suara terbanyak, maka tak ada pilihan lain, Demokrat harus bersikap terbuka dan bersinergi dengan tokoh nasional yang termasuk paling populer, di antaranya JK.

Sementara di sisi lainnya, JK terancam kehilangan kendaraan politik yang bakal mengusungnya dalam Pilpres 2014. Keinginan kuat Aburizal Bakri untuk menjadi Capres tunggal dari Golkar, bepotensi mengesampingkan peluang tokoh-tokoh Golkar seperti JK dan Akbar Tanjung.

Dengan demikian, jika Demokrat mengusung JK dalam Pilpres 2014 bukan merupakan hal yang mustahil. Sejarah mencatat bahwa JK pernah berdampingan dengan SBY dalam periode pemerintahan 2004 – 2009. Pak SBY pun tentu masih menympan kesan yang mendalam, dan memori itu akan makin terkuak menjelang 2014. (Atep Afia).

1 comment:

  1. untuk menanggapi sindiran "Presiden di Amerika Serikat makin lama makin muda, sedangkan di Indonesia makin lama makin tua." selama capres tsb memiliki pengalaman dan otoritas kerja yang baik bahkan eksis dalam memajukan kesejahteraan bangsa indonesia capres tsb msh dianggap mampu mencalonkan diri. bahkan saat ini, jusuf kala sudah menjadi wakil presiden bersama dengan jokowi dodo.

    ReplyDelete