.

Apr 25, 2013

Bahasa Nurani Makin Terkikis

Oleh : Atep Afia Hidayat - Manusia dalam arena kehidupan “ditakdirkan” untuk bersuku-suku, berkelompok, dan berbeda dalam banyak hal. Sepertinya heterogenitas ini merupakan “ciri umum” dari arena kehidupan. Tetapi, jika dikaji secara cermat, ternyata dibalik heterogenitas itu terdapat homogenitas. Manusia memang berbeda-beda, tetapi memiliki banyak kesamaan, antara lain sama-sama diciptakan dari tanah, sama-sama merasa haus dan lapar, serta sama-sama memiliki bahasa hati dan bahasa nurani !

Dalam pergaulan sehari -hari, terdapat seorang yang “cocok” dengan orang lainnya. Terdapat seorang yang “cocok” dengan banyak orang, dan ada pula orang yang sulit untuk “cocok” dengan orang lainnya. Kenapa bisa terjadi ? Jika demikian, mengapa banyak orang-orang yang tergabung dalam misi sosial, yang mengemban tugas membina suku terasing di pedalaman, bisa begitu cocok dengan mereka. Bahasa mereka berbeda, begitu pula dengan warna kulit, adat istiadat, wawasan dan intelektual. Lantas, kesamaannya dalam hal apa ? Ya, bahasa hati itulah.

Jangankan di antara manusia, bahkan manusia dengan jenis mahluk lainnya pun bisa timbul “kecocokan”, karena sama-sama memiliki bahasa nurani. Setiap mahluk yang hidup, diduga memiliki nurani. Umpamanya, singa atau harimau, merupakan mahluk yang buas dan liar, kok bisa ikut “berpartisipasi” dalam arena sirkus ? Ya, karena “nurani”nya telah tersentuh, hingga dengan manusia sebagai pelatihnyapun bisa timbul “kecocokan”. Dalam kasus-kasus tertentu, ada manusia yang bisa “akrab” dengan berbagai jenis ular yang berbisa, buaya, lebah, bahkan dengan jin!

Manusia dengan manusia lainnya belum tentu memiliki kecocokan. Meskipun adat istiadat, intelektual, wawasan, persepsi, status sosial dan bahasanya hampir sama. Bahkan, di antara dua saudara yang kembar sekalipun belum tentu ada kecocokan. Dengan demikian, munculnya kecocokan itu yakni tatkala terjadi “sambungan” bahasa nurani.

Hal tersebut akan menyebabkan terjadinya interaksi sosial yang didasari rasa saling percaya dan saling membutuhkan. Hingga antara satu dengan yang lainnya menjadi unit kesatuan sosial. Hal itu pula yang menjadi dasar dari pembentukan suatu masyarakat yang berinteraksi secara harmonis.

Di daerah pedesaan “sambungan nurani” antar anggota masyarakat masih cukup kuat. Tetapi dengan makin berkembangnya budaya materialisme “sambungan nurani” itu menjadi terkikis, hingga di antara tetangga yang bersebelahan rumahpun tidak saling mengenal. Ya karena nuraninya yang tidak nyambung ! (Atep Afia)

6 comments:

  1. intinya dimulai dari diri sendiri, apabila kita mau membangun interaksi sosial yang positif terhadap sesama dan tidak sibuk dengan dunianya sendiri maka bahasa nurani itu dengan sendirinya akan terbentuk lagi. kemajuan teknologi apabila tidak dipergunakan dengan baik, juga berperan terhadap kikisnya bahasa nurani saat2 ini. mulailah membuka diri terhadap sekitar, jangan larut dalam dunianya sendiri.

    ReplyDelete
  2. S. ALBERTUS ASEP MAARIYADI - Tugas TB05

    Dari artikel di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, setiap individu mempunyai bahasa hati nurani, baik itu bahasa nurani yang terjalin antar individu maupun yang terjalin antara individu dengan makhluk lain, tidak menutup kemungkinan terdapat banyak faktor yang melatarbelakangi terciptanya kecocokan antar individu, akan tetapi di era modernisasi seperti saat ini kehidupan dan pola hidup seperti yang seharusnya tercipta di masyarakan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis semakin terkikis. pengikisan ini disebabkkan karena adanya pola yang terjadi di masyarakat, masyarakat cenderung lebih mementingkan kehidupannya sendiri, sehingga kini keberadaan hati nurani sering diabaikan.
    sekian....

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Untuk menanamkan nilai-nilai nurahi pada generasi muda haruslah ditànamkan dari masih kecil, supaya ketika dewasa dapat mempunyai sifat nurani yang baik

    ReplyDelete
  5. Untuk menanamkan nilai-nilai nurahi pada generasi muda haruslah ditànamkan dari masih kecil, supaya ketika dewasa dapat mempunyai sifat nurani yang baik

    ReplyDelete
  6. Jessica Siahaan
    @E30-Jessica, @Tugas B05

    Pokok bahasan dari artikel di atas yaitu, nurani orang yang satu dengan orang yang lainnya tidak akan bisa tersambung jika dari pribadinya tidak membuka hati. Artinya bahwa, di mulai dari diri sendiri, ketika kita terlebih dahulu membuka hati untuk mau bersosial dengan lingkungan, contohnya : ketika bertemu tetangga, kita menyapa dan memberi salam terlebih dahulu, maka orang lain yang melihatnya pun akan tersentuh sehingga akan terjalin hubungan yang harmonis, dan dari hubungan harmonis tersebut, akan muncul kecocokan antara pribadi kita dengan orang lain, dan bahasa nurani nya pun akan saling sambung.

    ReplyDelete