Meta Description: Menjelajahi sejarah, budaya, dan tantangan Provinsi Pattani, Thailand. Artikel ini mengupas perpaduan unik identitas Melayu-Muslim di tengah dinamika sosiopolitik modern.
Keywords: Pattani Thailand, sejarah Pattani, budaya Melayu Thailand, konflik Thailand Selatan, wisata religi Pattani, identitas Melayu-Muslim.
Pernahkah Anda membayangkan sebuah tempat di mana arsitektur
masjid bergaya Tiongkok berdiri megah, bahasa Melayu terdengar di pasar
tradisional, namun bendera Thailand berkibar di setiap sudut jalan? Selamat
datang di Pattani.
Provinsi yang terletak di ujung selatan Thailand ini bukan
sekadar titik di peta konflik yang sering kita dengar di berita internasional.
Pattani adalah sebuah "kuali peleburan" ( melting pot) budaya
yang menyimpan sejarah panjang sebagai pusat intelektual Islam di Asia
Tenggara, sekaligus menjadi saksi bisu dinamika integrasi nasional yang
kompleks. Sekitar 87,5% – 88%
penduduk Provinsi Pattani beragama Islam
(data sekitar 2014–2019), sisanya Buddha
sekitar 12%.
Jumlah Penduduk, Luas Wilayah dan Administrasi
Pemerintahan Provinsi Pattani:
|
Parameter |
Data |
|
Populasi |
±700.000 – 750.000 jiwa |
|
Luas wilayah |
±1.977 km² |
|
Distrik |
12 amphoe |
|
Sub-distrik |
115 tambon |
|
Desa |
629 muban |
Distrik (Amphoe) di Provinsi Pattani meliputi : Mueang Pattani, Khok Pho, Nong Chik, Panare, Mayo, Thung Yang Daeng, Sai Buri, Mai Kaen, Yaring, Yarang, Kapho, dan Mae La.
Jejak Sejarah: Dari Kerajaan Patani Hingga Integrasi
Modern
Secara historis, Pattani bukan sekadar provinsi kecil.
Dahulu, ia adalah jantung dari Kerajaan Patani Darussalam, sebuah
pelabuhan kosmopolitan yang setara dengan Malaka dalam hal perdagangan dan
penyebaran ilmu pengetahuan.
Namun, sejarah berubah ketika Perjanjian Anglo-Siamese tahun
1909 secara resmi memasukkan wilayah ini ke dalam kedaulatan Thailand (dahulu
Siam). Sejak saat itu, Pattani mengalami proses "Thaifikasi" yang
bertujuan menyatukan berbagai etnis di bawah satu identitas nasional.
Ketegangan muncul ketika identitas lokal—yang berbasis etnis
Melayu dan agama Islam—berbenturan dengan kebijakan asimilasi pemerintah pusat
yang berbasis etnis Thai dan agama Buddha. Inilah akar dari dinamika
sosiopolitik yang kita lihat hingga hari ini.
Identitas Ganda: Menjadi Melayu di Negeri Gajah Putih
Apa yang membuat Pattani begitu unik? Jawabannya terletak
pada identitas hibrida penduduknya. Mayoritas warga di sini menggunakan
Bahasa Melayu dialek Patani (sering disebut Bahasa Jawi) dalam kehidupan
sehari-hari, namun mahir berbahasa Thai untuk urusan administratif.
Budaya dan Arsitektur
Salah satu simbol toleransi dan sejarah yang paling nyata
adalah Masjid Kerisik (Krue Se Mosque) dan Masjid Jami' Pattani.
Masjid Kerisik memiliki arsitektur yang unik dengan pengaruh bata merah tanpa
plester, mencerminkan persilangan budaya yang kuat. Di sisi lain, Pattani juga
memiliki kuil Buddha yang megah dan komunitas Tionghoa yang hidup berdampingan
selama berabad-abad.
Pendidikan: Pondok sebagai Jantung Masyarakat
Lembaga pendidikan tradisional yang disebut Pondok
tetap menjadi pilar utama masyarakat Pattani. Pondok bukan hanya tempat belajar
agama, tetapi juga benteng pelestarian identitas Melayu di tengah arus
modernisasi.
Tantangan dan Dinamika Kontemporer
Kita tidak bisa menutup mata bahwa Pattani sering kali
diasosiasikan dengan konflik bersenjata. Sejak tahun 2004, eskalasi kekerasan
antara kelompok separatis dan militer Thailand telah menarik perhatian dunia.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan pergeseran menarik.
Menurut studi yang diterbitkan dalam Journal of Southeast Asian Studies,
masyarakat Pattani kini lebih fokus pada "Kedaulatan Budaya"
daripada sekadar kemerdekaan politik. Mereka menuntut pengakuan atas bahasa,
pendidikan agama, dan hukum adat dalam bingkai negara Thailand.
"Konflik di Thailand Selatan bukan sekadar masalah
keamanan, melainkan masalah pengakuan identitas yang belum tuntas."
Solusi Berbasis Penelitian: Pendekatan "Soft
Power"
Bagaimana masa depan Pattani? Para ahli menyarankan bahwa
solusi militeristik tidak lagi efektif. Berikut adalah beberapa pendekatan
berbasis data yang dapat membawa perubahan:
- Pendidikan
Multikultural: Mengintegrasikan sejarah lokal ke dalam kurikulum
nasional Thailand untuk mengurangi prasangka.
- Pemberdayaan
Ekonomi Lokal: Memanfaatkan potensi "Halal Hub" di Pattani
untuk menghubungkan Thailand dengan pasar Muslim global.
- Dialog
Inklusif: Melibatkan tokoh agama (Ulama) dan pemimpin lokal dalam
pengambilan kebijakan pembangunan.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Berita Konflik
Pattani adalah cermin dari bagaimana sebuah identitas
bertahan di tengah arus globalisasi dan nasionalisme. Ia adalah wilayah yang
kaya akan tradisi, memiliki ketangguhan luar biasa, dan menyimpan potensi besar
jika dikelola dengan pendekatan yang humanis dan inklusif.
Mengenal Pattani berarti belajar tentang toleransi yang
diuji oleh waktu. Sebagai pembaca, apakah kita akan terus melihat wilayah ini
hanya dari sudut pandang konflik, atau mulainya melihatnya sebagai bagian
penting dari mozaik budaya Asia Tenggara yang harus kita hargai?
Daftar Pustaka (Referensi Ilmiah)
- Aphornsuvan,
T. (2023). History and Politics of the Muslims in Southern Thailand.
Journal of Islamic Studies, 34(1), 45-68.
- Joll,
C. M. (2021). Muslim Merit-making in Thailand's Far South.
Southeast Asian Studies, 10(2), 215-238.
- McCargo,
D. (2019). Tearing Apart the Land: Islam and Legitimacy in Southern
Thailand. Cornell University Press (International Journal of Asian
Studies review).
- Sattar,
A. (2022). Language Policy and Identity Construction in Patani.
International Journal of Multilingualism, 19(3), 312-329.
- Yusuf,
I. (2020). The Ethno-Religious Conflict in Southern Thailand: A
Sustainable Solution. Journal of Peace and Development, 15(4), 88-105.
10 Hashtag Terkait
#Pattani #ThailandSelatan #SejarahMelayu #BudayaIslam
#SouthThailand #ExplorePattani #IdentitasMelayu #StudiAsiaTenggara
#KerajaanPatani #HarmoniBudaya

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.