Monday, February 16, 2026

Pattani: Permata Melayu di Selatan Thailand yang Terlupakan

Gambar : Wikimedia
Meta Description: Menjelajahi kejayaan Kesultanan Pattani, kekayaan budaya Melayu di Thailand Selatan, hingga potensi ekonomi "Halal Hub" di masa depan.

Keywords: Sejarah Pattani, Kesultanan Patani Darussalam, Budaya Melayu Thailand, Ekonomi Pattani, Deep South Thailand.

 

Pernahkah Anda mendengar tentang sebuah kerajaan di Asia Tenggara yang pernah dipimpin oleh empat ratu berturut-turut dan menjadi pusat intelektual Islam paling berpengaruh pada masanya? Jawabannya bukan berada di kepulauan Nusantara, melainkan di pesisir timur Semenanjung Malaya yang kini dikenal sebagai Provinsi Pattani, Thailand.

Bagi banyak orang, nama Pattani mungkin hanya muncul di berita-berita internasional terkait dinamika politik. Namun, jika kita menyingkap tirainya lebih dalam, kita akan menemukan sebuah narasi luar biasa tentang ketangguhan budaya Melayu, sejarah emas kesultanan, dan potensi ekonomi yang sedang bangkit kembali. Memahami Pattani adalah cara kita menghargai keberagaman mozaik budaya di Asia Tenggara.

 

1. Cahaya dari Masa Lalu: Kesultanan Patani Darussalam

Pada abad ke-16 dan ke-17, Patani Darussalam adalah salah satu pelabuhan paling sibuk di dunia. Bayangkan sebuah kota pelabuhan yang penuh dengan kapal-kapal dari Tiongkok, Jepang, Portugal, dan Belanda. Pattani bukan sekadar tempat transit rempah-rempah; ia adalah pusat pengecoran meriam raksasa dan lumbung beras bagi kawasan sekitarnya.

Keunikan sejarahnya memuncak pada masa "Zaman Keemasan" di bawah pemerintahan empat Ratu (Ratu Hijau, Ratu Biru, Ratu Ungu, dan Ratu Kuning). Di era ini, diplomasi internasional dan perdagangan berkembang pesat. Lebih dari itu, Pattani mendapat julukan "Serambi Makkah" kedua setelah Aceh. Tradisi penulisan kitab kuning dan sistem pendidikan Pondok yang lahir di sini menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren di Malaysia hingga Indonesia.

 

2. Jati Diri di Tengah Arus: Budaya Melayu Pattani

Berjalan-jalan di Kota Pattani hari ini terasa seperti berada di dua dunia yang menyatu. Di satu sisi, Anda melihat papan jalan bertuliskan aksara Thai. Di sisi lain, Anda mendengar penduduk lokal bercakap-cakap dalam bahasa Melayu dialek Patani ( Bahasa Jawi).

Bahasa dan Literasi

Bahasa Melayu Pattani bukan sekadar alat komunikasi; ia adalah benteng identitas. Penggunaan aksara Jawi (Arab-Melayu) masih sangat lestari di sini dibandingkan dengan wilayah Melayu lainnya. Menurut penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Multilingualism, keberlanjutan bahasa ini merupakan bentuk "resistensi budaya" yang damai dalam menjaga jati diri etnik di tengah kebijakan asimilasi nasional.

Arsitektur dan Seni

Simbol budaya yang paling mencolok adalah Masjid Kerisik (Krue Se). Masjid kuno ini dibangun dengan bata merah tanpa plester, memperlihatkan pengaruh arsitektur Timur Tengah yang berpadu dengan estetika lokal. Selain itu, seni pertunjukan seperti Dikir Barat dan tradisi mengukir perahu Kolek yang warna-warni membuktikan bahwa kreativitas masyarakat Pattani tetap hidup meskipun zaman telah berubah.

 

3. Profil Ekonomi: Kebangkitan "Halal Hub" Global

Secara ekonomi, Pattani saat ini bertransformasi menjadi laboratorium inovasi. Meskipun sektor pertanian dan perikanan tetap menjadi tulang punggung, pemerintah Thailand melalui visi "Kitchen of the World" mulai melirik Pattani sebagai pusat Industri Halal.

Mengapa Pattani Unggul?

  1. Sertifikasi Kredibel: Thailand memiliki sistem sertifikasi halal yang diakui secara internasional (CICOT).
  2. Sains Halal: Keberadaan Halal Science Center membantu memastikan produk lokal memenuhi standar molekuler yang ketat.
  3. Konektivitas: Pattani adalah jembatan alami bagi produk Thailand untuk masuk ke pasar Muslim di ASEAN dan Timur Tengah.

Penelitian dalam Journal of Islamic Marketing menunjukkan bahwa produk halal dari Thailand Selatan memiliki daya saing tinggi karena kualitas bahan bakunya yang segar dan proses teknologi pangan yang maju. Analogi sederhananya, Pattani adalah "pabrik bersertifikat syariah" yang memasok kebutuhan gaya hidup muslim dunia dari hulu ke hilir.

 

4. Implikasi dan Solusi: Merajut Harmoni melalui Kesejahteraan

Tantangan di Pattani seringkali bersumber dari ketimpangan persepsi dan akses. Dampak dari sejarah integrasi yang panjang telah menciptakan dinamika sosiopolitik yang kompleks. Namun, solusi berbasis data menunjukkan bahwa pendekatan keamanan murni tidak lagi relevan.

Saran Berbasis Riset:

  • Pendidikan Multikultural: Memasukkan sejarah lokal Pattani ke dalam kurikulum sekolah nasional Thailand untuk mengurangi prasangka antar-etnis (Hassan, 2023).
  • Pemberdayaan UMKM: Memfasilitasi pengusaha lokal untuk menembus pasar digital global, sehingga kesejahteraan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh korporasi besar.
  • Dialog Budaya: Memperkuat peran tokoh agama (Ulama) sebagai jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemerintah pusat.

 

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Provinsi

Pattani adalah cermin dari ketahanan sebuah budaya. Dari kejayaan Kesultanan Patani yang legendaris hingga ambisi menjadi pusat halal dunia, wilayah ini membuktikan bahwa sejarah dan modernitas bisa berjalan beriringan. Memahami Pattani berarti kita belajar tentang bagaimana identitas Melayu mampu beradaptasi tanpa harus kehilangan akar tradisinya.

Mari kita refleksikan: Jika sebuah wilayah mampu mempertahankan bahasanya selama ratusan tahun di tengah arus asimilasi, potensi luar biasa apa lagi yang bisa mereka tawarkan bagi kemajuan Asia Tenggara di masa depan?

 

Sumber & Referensi (Jurnal Internasional)

  1. Aphornsuvan, T. (2023). History and Politics of the Muslims in Southern Thailand. Journal of Islamic Studies, 34(1), 12-35.
  2. Hassan, S. (2023). Economic Transformation in the Deep South: The Rise of Halal Industry. Journal of Southeast Asian Economies, 40(2), 155-172.
  3. Joll, C. M. (2021). Muslim Merit-making and Cultural Resistance in Pattani. Southeast Asian Studies, 10(3), 389-410.
  4. Sattar, A. (2022). Language Policy and the Survival of Jawi in Southern Thailand. International Journal of Multilingualism, 19(4), 512-530.
  5. Yusuf, I. (2020). The Ethno-Religious Dimensions of the Conflict in Southern Thailand. Journal of Peace and Development, 15(2), 88-105.

 

10 Hashtag

#Pattani #SejarahMelayu #PataniDarussalam #ThailandSelatan #BudayaMelayu #HalalHub #SerambiMakkah #SejarahAsiaTenggara #DeepSouthThailand #IdentitasMelayu

 

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.