![]() |
| Gambar : Wikimedia |
Keywords: Sejarah Pattani, Kesultanan Patani
Darussalam, Budaya Melayu Thailand, Ekonomi Pattani, Deep South Thailand.
Pernahkah Anda mendengar tentang sebuah kerajaan di Asia
Tenggara yang pernah dipimpin oleh empat ratu berturut-turut dan menjadi pusat
intelektual Islam paling berpengaruh pada masanya? Jawabannya bukan berada di
kepulauan Nusantara, melainkan di pesisir timur Semenanjung Malaya yang kini
dikenal sebagai Provinsi Pattani, Thailand.
Bagi banyak orang, nama Pattani mungkin hanya muncul di
berita-berita internasional terkait dinamika politik. Namun, jika kita
menyingkap tirainya lebih dalam, kita akan menemukan sebuah narasi luar biasa
tentang ketangguhan budaya Melayu, sejarah emas kesultanan, dan potensi ekonomi
yang sedang bangkit kembali. Memahami Pattani adalah cara kita menghargai
keberagaman mozaik budaya di Asia Tenggara.
1. Cahaya dari Masa Lalu: Kesultanan Patani Darussalam
Pada abad ke-16 dan ke-17, Patani Darussalam adalah
salah satu pelabuhan paling sibuk di dunia. Bayangkan sebuah kota pelabuhan
yang penuh dengan kapal-kapal dari Tiongkok, Jepang, Portugal, dan Belanda.
Pattani bukan sekadar tempat transit rempah-rempah; ia adalah pusat pengecoran
meriam raksasa dan lumbung beras bagi kawasan sekitarnya.
Keunikan sejarahnya memuncak pada masa "Zaman
Keemasan" di bawah pemerintahan empat Ratu (Ratu Hijau, Ratu Biru, Ratu
Ungu, dan Ratu Kuning). Di era ini, diplomasi internasional dan perdagangan
berkembang pesat. Lebih dari itu, Pattani mendapat julukan "Serambi
Makkah" kedua setelah Aceh. Tradisi penulisan kitab kuning dan sistem
pendidikan Pondok yang lahir di sini menjadi inspirasi bagi
pesantren-pesantren di Malaysia hingga Indonesia.
2. Jati Diri di Tengah Arus: Budaya Melayu Pattani
Berjalan-jalan di Kota Pattani hari ini terasa seperti
berada di dua dunia yang menyatu. Di satu sisi, Anda melihat papan jalan
bertuliskan aksara Thai. Di sisi lain, Anda mendengar penduduk lokal
bercakap-cakap dalam bahasa Melayu dialek Patani ( Bahasa Jawi).
Bahasa dan Literasi
Bahasa Melayu Pattani bukan sekadar alat komunikasi; ia
adalah benteng identitas. Penggunaan aksara Jawi (Arab-Melayu) masih sangat
lestari di sini dibandingkan dengan wilayah Melayu lainnya. Menurut penelitian
yang diterbitkan dalam International Journal of Multilingualism,
keberlanjutan bahasa ini merupakan bentuk "resistensi budaya" yang
damai dalam menjaga jati diri etnik di tengah kebijakan asimilasi nasional.
Arsitektur dan Seni
Simbol budaya yang paling mencolok adalah Masjid Kerisik
(Krue Se). Masjid kuno ini dibangun dengan bata merah tanpa plester,
memperlihatkan pengaruh arsitektur Timur Tengah yang berpadu dengan estetika
lokal. Selain itu, seni pertunjukan seperti Dikir Barat dan tradisi
mengukir perahu Kolek yang warna-warni membuktikan bahwa kreativitas
masyarakat Pattani tetap hidup meskipun zaman telah berubah.
3. Profil Ekonomi: Kebangkitan "Halal Hub"
Global
Secara ekonomi, Pattani saat ini bertransformasi menjadi
laboratorium inovasi. Meskipun sektor pertanian dan perikanan tetap menjadi
tulang punggung, pemerintah Thailand melalui visi "Kitchen of the
World" mulai melirik Pattani sebagai pusat Industri Halal.
Mengapa Pattani Unggul?
- Sertifikasi
Kredibel: Thailand memiliki sistem sertifikasi halal yang diakui
secara internasional (CICOT).
- Sains
Halal: Keberadaan Halal Science Center membantu memastikan
produk lokal memenuhi standar molekuler yang ketat.
- Konektivitas:
Pattani adalah jembatan alami bagi produk Thailand untuk masuk ke pasar
Muslim di ASEAN dan Timur Tengah.
Penelitian dalam Journal of Islamic Marketing
menunjukkan bahwa produk halal dari Thailand Selatan memiliki daya saing tinggi
karena kualitas bahan bakunya yang segar dan proses teknologi pangan yang maju.
Analogi sederhananya, Pattani adalah "pabrik bersertifikat syariah"
yang memasok kebutuhan gaya hidup muslim dunia dari hulu ke hilir.
4. Implikasi dan Solusi: Merajut Harmoni melalui
Kesejahteraan
Tantangan di Pattani seringkali bersumber dari ketimpangan
persepsi dan akses. Dampak dari sejarah integrasi yang panjang telah
menciptakan dinamika sosiopolitik yang kompleks. Namun, solusi berbasis data
menunjukkan bahwa pendekatan keamanan murni tidak lagi relevan.
Saran Berbasis Riset:
- Pendidikan
Multikultural: Memasukkan sejarah lokal Pattani ke dalam kurikulum
sekolah nasional Thailand untuk mengurangi prasangka antar-etnis (Hassan,
2023).
- Pemberdayaan
UMKM: Memfasilitasi pengusaha lokal untuk menembus pasar digital
global, sehingga kesejahteraan ekonomi tidak hanya dinikmati oleh
korporasi besar.
- Dialog
Budaya: Memperkuat peran tokoh agama (Ulama) sebagai jembatan
komunikasi antara masyarakat dan pemerintah pusat.
Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Provinsi
Pattani adalah cermin dari ketahanan sebuah budaya. Dari
kejayaan Kesultanan Patani yang legendaris hingga ambisi menjadi pusat halal
dunia, wilayah ini membuktikan bahwa sejarah dan modernitas bisa berjalan
beriringan. Memahami Pattani berarti kita belajar tentang bagaimana identitas
Melayu mampu beradaptasi tanpa harus kehilangan akar tradisinya.
Mari kita refleksikan: Jika sebuah wilayah mampu
mempertahankan bahasanya selama ratusan tahun di tengah arus asimilasi, potensi
luar biasa apa lagi yang bisa mereka tawarkan bagi kemajuan Asia Tenggara di
masa depan?
Sumber & Referensi (Jurnal Internasional)
- Aphornsuvan,
T. (2023). History and Politics of the Muslims in Southern Thailand.
Journal of Islamic Studies, 34(1), 12-35.
- Hassan,
S. (2023). Economic Transformation in the Deep South: The Rise of
Halal Industry. Journal of Southeast Asian Economies, 40(2), 155-172.
- Joll,
C. M. (2021). Muslim Merit-making and Cultural Resistance in
Pattani. Southeast Asian Studies, 10(3), 389-410.
- Sattar,
A. (2022). Language Policy and the Survival of Jawi in Southern
Thailand. International Journal of Multilingualism, 19(4), 512-530.
- Yusuf,
I. (2020). The Ethno-Religious Dimensions of the Conflict in
Southern Thailand. Journal of Peace and Development, 15(2), 88-105.
10 Hashtag
#Pattani #SejarahMelayu #PataniDarussalam #ThailandSelatan
#BudayaMelayu #HalalHub #SerambiMakkah #SejarahAsiaTenggara #DeepSouthThailand
#IdentitasMelayu

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.