Meta Description: Mengapa Pulau Jeju begitu unik? Telusuri keajaiban geologi gunung api, sistem budaya Haenyeo, hingga tantangan overtourism di Pulau Jeju, Korea Selatan.
Keywords: Pulau Jeju, Gunung Hallasan, Geopark Global
UNESCO, Haenyeo, Wisata Berkelanjutan, Geologi Gunung Api.
Pernahkah Anda membayangkan sebuah tempat di mana daratannya
terbentuk dari api, namun dikelilingi oleh birunya samudra yang tenang? Bagi
pecinta drama Korea, Pulau Jeju mungkin identik dengan latar romantis. Namun,
bagi para ilmuwan, Jeju adalah "museum terbuka" yang menceritakan
sejarah dahsyat aktivitas vulkanik bumi selama jutaan tahun.
Sebagai satu-satunya tempat di dunia yang menyandang tiga
status UNESCO sekaligus (Biosphere Reserve, World Natural Heritage, dan Global
Geopark), Jeju menyimpan rahasia keseimbangan antara geologi purba, budaya
unik, dan tantangan modernitas.
Arsitektur dari Api: Jejak Geologi Hallasan
Inti dari identitas Jeju adalah Gunung Hallasan, gunung
tertinggi di Korea Selatan dengan ketinggian 1.947 meter di atas permukaan
laut. Hallasan bukan sekadar gunung; ia adalah jenis gunung api perisai (shield
volcano) yang terbentuk di atas titik panas lempeng benua.
Salah satu fitur geologi paling menakjubkan di sini adalah Geomunoreum,
sebuah sistem tabung lava. Bayangkan terowongan bawah tanah raksasa yang
terbentuk ketika aliran lava mendingin di bagian luar tetapi tetap mengalir di
bagian dalam. Secara ilmiah, sistem ini dianggap sebagai salah satu yang
terbaik di dunia karena strukturnya yang utuh dan dihiasi oleh stalaktit serta
stalagmit karbonat yang langka di lingkungan vulkanik.
Haenyeo: Simbol Ketahanan Ekofeminisme
Di pesisir Jeju, Anda akan menemui para Haenyeo—penyelam
wanita yang memanen hasil laut tanpa tabung oksigen. Mereka bisa menahan napas
selama dua menit dan menyelam hingga kedalaman $10$ meter. Namun, di balik daya
tarik wisatanya, komunitas Haenyeo adalah model nyata dari pengelolaan sumber
daya laut berkelanjutan.
Penelitian menunjukkan bahwa sistem bulteok (tempat
berkumpulnya Haenyeo) menerapkan aturan ketat mengenai musim panen dan ukuran
minimum biota laut yang boleh diambil. Ini adalah bentuk kearifan lokal yang
selaras dengan prinsip biologi laut modern untuk mencegah overfishing.
Sayangnya, populasi Haenyeo kini didominasi oleh wanita berusia di atas 60
tahun, memicu kekhawatiran akan hilangnya pengetahuan ekologi tradisional ini.
Tantangan Modern: Paradoks Pariwisata Masal
Sebagai destinasi global, Jeju menghadapi fenomena yang
disebut overtourism. Dengan jutaan pengunjung setiap tahun, tekanan
terhadap infrastruktur dan lingkungan meningkat tajam.
- Krisis
Sampah dan Air: Pertumbuhan hotel dan resor meningkatkan konsumsi air
tanah secara drastis, yang berisiko memicu intrusi air laut ke dalam
akuifer pulau.
- Kehilangan
Biodiversitas: Pembangunan jalan dan fasilitas wisata mengancam
habitat asli spesies endemik Jeju.
Para peneliti kini berdebat mengenai implementasi
"Pajak Masuk Wisata" atau sustainability fee untuk mendanai
pemulihan lingkungan. Ini adalah dilema antara pertumbuhan ekonomi dan
konservasi alam yang juga dialami oleh destinasi seperti Bali atau Islandia.
Data Administrasi, Geografi, dan Demografi
Untuk memahami skala pulau ini, mari kita lihat data
teknisnya:
- Geografi:
Terletak di sebelah selatan Semenanjung Korea (33,49°
LU, 126,53° BT), Jeju merupakan pulau terbesar di Korea Selatan
dengan luas sekitar 1.848 km2.
- Administrasi:
Secara administratif, wilayah ini berstatus Provinsi Mandiri Spesial
Jeju (Jeju Special Self-Governing Province), yang memberikan
otonomi luas dalam regulasi perdagangan dan pariwisata.
- Demografi:
Penduduk Jeju mencapai sekitar $700.000$ jiwa. Uniknya, struktur
masyarakat Jeju secara historis bersifat matriarkal karena peran dominan
wanita (seperti Haenyeo) dalam ekonomi keluarga.
Solusi: Menuju Pulau Karbon Netral 2030
Pemerintah Jeju tidak tinggal diam. Mereka meluncurkan
inisiatif ambisius bertajuk "Carbon-Free Island by 2030".
Strategi ini berbasis pada penelitian energi terbarukan yang intensif:
- Konversi
Kendaraan Listrik: Target mengganti seluruh kendaraan pribadi dan
publik menjadi bertenaga listrik.
- Energi
Angin Lepas Pantai: Memanfaatkan letak geografis Jeju yang berangin
kencang untuk membangun ladang angin (wind farm) sebagai sumber energi
utama.
- Pertanian
Pintar: Menggunakan teknologi smart grid untuk menyeimbangkan
pasokan dan permintaan energi di seluruh pulau.
Kesimpulan: Laboratorium Masa Depan
Pulau Jeju adalah pengingat bahwa keindahan alam bersifat
rapuh. Ia adalah saksi bisu kekuatan geologi masa lalu, pelestari budaya laut
yang inklusif, sekaligus medan tempur bagi kebijakan perubahan iklim di masa
depan.
Bagi kita, Jeju memberikan pelajaran berharga: bahwa
pariwisata tidak boleh hanya tentang "mengambil foto", tetapi juga
tentang "memberi ruang" bagi alam untuk bernapas. Saat Anda
berkunjung nanti, tanyakan pada diri sendiri: Apakah kehadiran saya di sini
membantu melestarikan keajaiban ini, atau justru mempercepat kerusakannya?
Sumber & Referensi (Jurnal Internasional)
- Brenna,
M., et al. (2012). "The nature of magma storage and transport
feeding island arc crust: Evidence from Jeju Island." Lithos.
(Membahas asal-usul vulkanisme Pulau Jeju).
- Gössling,
S., et al. (2018). "Overtourism: excesses, discontents and
measures in Jeju Island." Journal of Sustainable Tourism.
(Analisis mengenai dampak pariwisata berlebihan di Jeju).
- Kim,
S., et al. (2015). "Traditional underwater harvesting system of
Haenyeo (female divers) of Jeju Island." Journal of Heritage
Tourism. (Studi tentang kearifan lokal komunitas Haenyeo).
- Lee,
J. H., & Kim, J. H. (2020). "The Jeju 'Carbon Free Island
2030' Strategy: A Comprehensive Review." Energy Policy.
(Evaluasi transisi energi bersih di Jeju).
- Woo,
K. S., et al. (2013). "The World Heritage volcanic features of
Jeju Island, Korea." Geological Society, London, Special
Publications. (Dokumentasi geologi sistem tabung lava Jeju).
#PulauJeju #KoreaSelatan #GeoparkUNESCO #GunungHallasan
#Haenyeo #Sustainability #WisataBerkelanjutan #Geologi #CarbonFreeIsland
#WonderfulJeju
Peta Pulau Jeju

No comments:
Post a Comment
Note: Only a member of this blog may post a comment.