.

May 21, 2013

Parpol Kalang Kabut

Oleh : Atep Afia Hidayat - Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 tinggal hitungan bulan, tak lama lagi memang. Geliat Pemilu 2014 sudah sangat terasa, bahkan cenderung menghangat menuju memanas. Ada beberapa lembaga yang menjadi bagian dari Pemilu, mulai dari Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan tentu saja sang aktor utama Partai Politik (Parpol). Semua Parpol saat ini sedang kalang kabut alias riweuh dalam menyiapkan kemenangan dalam pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Pemilu merupakan ajang demokrasi, di mana sebuah bangsa akan menentukan masa depannya, setidaknya lima tahun ke depan. Pemilu di Indonesia termasuk pesta demokrasi yang terbesar di dunia. Tentu saja begitu gegap gempita, penuh dengan adu strategi, ada licik, adu duit, adu jagoan, dan adu-adu lainnya. Meskipun sejatinya Pemilu harus diselenggarakan dengan jujur dan adil (Jurdil). Namun tak dapat dipungkiri para petualang politik yang nakal siap bergentayangan, bahkan bisa menodai “kesucian” ajang demokrasi tersebut.

Sebagai aktor utama dalam Pemilu 2014, Parpol yang lolos seleksi terus bergiat, bagaimanapun genderang “perang” sudah ditabuh. Rakyat sudah dikotak-kotakan dalam daerah pemilihan (Dapil), untuk selanjutnya dikotak-kotakan dalam Parpol. Praktis semua rakyat yang sudah memiliki hak suara terbagi habis dalam sekian jumlah Dapil. Ada Dapil dengan puluhan juta rakyat, ada juga yang hanya ratusan ribu. Hal itu karena distribusi rakyat tidak merata.

Namun “pengkotak-kotakan” rakyat menjadi pemilih Parpol jelas tidak akan terbagi habis sebagaimana Dapil, sebab banyak rakyat yang tidak peduli Parpol manapun, bahkan tidak melek Pemilu. Kelompok rakyat yang demikian akan terhimpun dalam “kotak” golongan putih (Golput). Di manapun tak ada pesta demokrasi yang diikuti 100 persen rakyatnya. Angka 70 persen sudah terhitung bagus.

Kenapa rakyat banyak yang memilih Golput ? Ternyata alasan utamanya ialah tidak berkenan dan tidak tertarik kepada salah satu Parpol pun. Kenapa Parpol tidak menarik bagi mereka ? Karena elite Parpolnya yang tidak sedap dipandang, tidak nyaman didengar, atau karena memang Parpolnya kalang kabut.

Jelas rakyat sangat butuh Parpol yang dapat dipercaya atau meyakinkan. Para elit Parpol jangan pernah mebodohi atau melukai hati rakyat, sebab akan membekas dan terbawa dalam ingatan politiknya. Ketika hari “H” Pemilu tiba, maka Parpol tersebut akan ditinggalkan, bahkan seluruh Parpol.

Ada sederet nama Parpol sebagai peserta Pemilu 2014. Sebagian besar sudah menjajakan siapa bakal calon legislatif (Bacaleg) melalui media cetak, elektronik dan internet. Ada Bacaleg yang memang sudah berkali-kali jadi Caleg, ada Bacaleg dari kalangan artis, ada juga yang berasal dari orang-orang yang belakangan terkenal mendadak (atau mendadak terkenal). Ya, asalkan memenuhi kriteria yang ditetapkan, memiliki energi dan “amunisi”, sebenarnya siapapun berhak jadi Bacaleg.

Bagaimanapun Parpol merupakan instrumen demokrasi supaya bangsa dan negara ini tetap berkelanjutan, yaitu dengan terbentuknya pemerintahan yang kuat, bersih dan berwibawa. Harapan rakyat ialah terbentuknya pemerintah yang ideal dan mampu mengayomi, bukan pemerintah yang terlalu sibuk dengan kepentingan parpolnya masing-masing. Ya, pemerintah seperti saat ini memang seperti terkapling menjadi kepentingan-kepentingan Parpol.

Pemerintah mendatang hendaknya diisi oleh para profesional yang mumpuni dibidangnya masing-masing. Syaratnya memang relatif sulit terpenuhi, yaitu adanya satu Parpol yang meraih suara rakyat di atas 50 persen, baik untuk pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden. Kalau hanya menang 20 – 30 persen, tetap saja harus membentuk koalisi, sehingga terbentuk koalisi kalang kabut yang beranggotakan Parpol kalang kabut. (Atep Afia)

Artikel Terkait :

Koalisi Parpol Hanya Pepesan Kosong
Buat Apa Koalisi Parpol
Pesona Perpol dan Republik Impian

3 comments:

  1. Saya sangat sejutu pak bila mengapa banyak rakyat yang golput karena mereka merasa parpol - parpol tersbut hanya menyebarkan janji janji palsu dan harapan harapan yang banyak diinginkan semua orang. Tapi pada kenyataan nya malah sebaliknya mereka setelah menempati bangku-bangku pemerintahan malah sewenang-wenangnya mensalahgunakan jabatan tersebut..

    dan yang lagi heboh-hebohnya saat ini adalah perseteruan antara gubernur DKI Jakarta dengan DPRD DKI
    saya sangat setuju sekali apa yang dilakukan oleh pak ahok karena dengan menggunakan e-buddgeting maka meminimalis korupsi yang ada di jakarta .

    ReplyDelete
  2. fera fitria
    @A22

    memang wajar bila masyarakat banyak yang golput, karena sudah berkurang masyarakatnya peduli atau tertarik pada parpol karena kebanyakan terjadi penyimpangan dipihak parpol

    ReplyDelete
  3. @D19-Kenny, Tugas A05

    Menurut saya banyaknya golput akibat dari tidak percayanya orang tersebut terhadap calon pemimpin. Mereka lebih baik tidak memilih di daripada salah memilih. Namun, seharusnya mereka memilih untuk kemajuan dan juga kesejahteraan daerah masing-masing

    ReplyDelete