.

Feb 3, 2016

Mengendalikan dan Menyamankan Pikiran

Oleh : Atep Afia Hidayat - Salah satu aktivitas otak manusia ialah berpikir. Ada beragam jenis berpikir dan konten pikirannya, mulai dari yang obyektif sampai subyektif, dari yang logis sampai alogis, dari yang produktif sampai kontra-produktif, dari kualitas emas sampai sampah.

Ada ungkapan yang sudah terkenal di masyarakat, yaitu “lagi banyak pikiran”. Banyak pikiran berarti proses berpikir yang cenderung subyektif dan tidak mengenal ujung pangkal, tidak jelas antara mana pendahuluan dan mana kesimpulan.

Tiada hari tanpa berpikir, apapun yang terlintas dan tertangkap panca indera sudah tentu merangsang otak untuk memikirkannya, terutama secara spontan. Aktivitas keseharian baik dalam rumah tangga, pekerjaan atau pergaulan sosial seringkali memberikan input-input yang “kurang sedap” terhadap otak, sehingga muncul pikiran-pikiran yang tidak menentu, istilah anak muda jadi “galau”.

Sebenarnya dalam mengendalikan pikiran itu sederhana saja, yaitu mampu memfilter apakah input atau konten berpikir termasuk penting, kurang penting atau tidak  penting untuk diproses lebih lanjut. Jika kurang penting atau tidak penting lebih baik diabaikan saja. Tetapi kalau yang penting harus ditindak-lanjuti, misalnya memikirkan tentang kelanjutan hidup baik di dunia ini maupun di alam akherat kelak.

Terkadang galau, was-was, cemas, khawatir, takut bersalah, prasangka atau apapun bentuk dan namanya menghampiri pikiran seseorang. Untuk mengalihkan pikiran dari input yang tidak produktif bahkan cenderung negatif tersebut, langkah terpenting adalah dengan sterilisasi lintasan pikiran. Apapun yang melintas dalam pikiran, jika membuat kurang nyaman maka segera dihalau dengan pikiran-pikiran yang kreatif dan produktif. Ketahuilah bahwa kendali penuh ada pada yang memiliki otak. Terdapat otoritas dan otonomi untuk memikirkan apapun, termasuk dalam pengelolaan dan perencanaannya.  Terdapat istilah segera “alihkan perhatian”, jangan terjebak dalam pikiran-pikiran horror yang cenderung mengganggu.


Siapapun bisa mengalami ketidak-nyamanan dalam pikiran dan proses berpikir, misalnya sebagai dampak dari keputusan, sikap, tingkah laku atau ucapan tertentu, yang “dirasakan” kurang enak atau “takut” menimbulkan efek tertentu. Sebenarnya jika keputusan, sikap, tingkah laku atau ucapannya termasuk katagori “baik” dan “benar” ketidak-nyamanan itu tidak perlu. Apapun risiko atau dampaknya kalau kebenaran sudah ditegakkan, maka seharusnya kenyamanan dalam pikiranlah yang muncul. “Ya Allah tunjukkanlah kebenaran itu dan jadikanlah saya orang yang gemar menegakkan kegemaran, dan tunjukkanlah kesalahan itu dan jadikanlah saya orang yang selalu menjauhi kesalahan”. Demikian, tetap berpikir produktif, nyaman, tenang, indah, baik dan benar. (Atep Afia)

Gambar:
http://careerwellnesspartners.com/wp-content/uploads/2015/03/n-QUESTION-WOMAN-large570.jpg

4 comments:

  1. @B05-Suhendra, Tugas-TB05
    Berpikir negatif juga dapat akan menimbulkan hal negatif pula kedalam organ tubuh kita hingga menimbulkan penyakit. Seperti hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr.Masaru Emoto San dalam bukunya yang berjudul “The True Power of Water.” membahas dengan jelas bahwa berpikir negativ yang terus menerus akan meresonansi organ-organ tubuh tertentu sehingga organ-organ tubuh tersebut tidak bisa berfungsi dengan maksimal, akibat selanjutnya akan dapat menimbulkan berbagai penyakit degeneratif, dari yang ringan hingga yang fatal. Misalnya, bila sering cemas, maka lambung akan terresonansi, akibatnya akan terjadi gangguan pencernaan berat, yang dalam jangka panjang lambungnya akan tidak sehat.

    ReplyDelete
  2. @C15-Firman,Tugas-TB05
    sebenarnya yang menjadi masalah adalah karena kita selalu menunda-nunda perkerjan atau kegiatan hingga menumpuk dan menjadikan beban pikiran hingga poses pikiran kita di hantui waktu waktu yang terus berjalan.

    ReplyDelete
  3. Yuliani Mardikawati
    Tugas TAT
    @A04-YULIANI
    terkadang kita senidiri yang mempbuat fikiran ini penuh dengan hal yang tidak penting. untuk apa kita terus begitu?
    oleh karna itu berfikirlah secara positif dan hiduplah dengan penuh rasa syukur.

    ReplyDelete
  4. @21-Efif,@Tugas-B05

    tujuan dari apa yang kta peljari selama ini adalah untuk mensinergikan otak dan perasaan kita, dimana otak harus berfikir dengan cara apa kita berbuat dengan hati yang mengkontrol perbuatan kita.sangatlah beruntung bagi kita umat manusia mengenal kata maaf dan saling memaafkan , tetapi itu bukan sebab untuk kita andalkan,dan se'enaknya kita berucap ,se'enaknya kita perlakukan sesama.tetapi melainkan itu sebagai bentuk toleransi bagi kita untuk menjaga ucapan serta perbuatan kita,apabila kita tidak bisa menjadi pribadi yang baik.

    ReplyDelete