.

Dec 13, 2013

Jokowi dan Prabowo

Oleh : Atep Afia Hidayat - Berita seputar pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) 2014 kian menghangat saja. Beberapa nama muncul dan tenggelam, ada yang muncul alamiah seperti tanpa rekayasa, ada juga yang memang muncul dengan faktor kesengajaan. Tak dapat dipungkiri banyak yang merasa dirinya menjadi tokoh, lantas mencoba memunculkan diri ke permukaan untuk mendapat dukungan. Bahkan, ada juga yang tak segan untuk menyebut dirinya calon presiden yang populer. Semuanya serba relatif, nyaris taka da alat ukur dan ukuran yang obyektif.

Dari sekian banyak bakal calon presiden ada dua nama yang menduduki papan atas tingkat populeritas, hal itu mengacu pada berbagai survey, baik yang dilakukan oleh lembaga independen atau dependen, yaitu Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto (Prabowo). Lantas, akankah keduanya berkolaborasi atau berkompetisi ? Bisa jadi keduanya berpasangan, yang satu sebagai calon presiden (Capres) dan yang satu lagi sebagai calon wakil presiden (Cawapres). 

Siapa yang  jadi Capres dan Cawapres tentu saja keduanya memiliki peluang yang nyaris sama. Capresnya Prabowo dan Cawapresnya Jokowi, bisa jadi; atau Capresnya Jokowi dan Cawapresnya Prabowo, kenapa tidak ? Sulit terbantahkan bahwa elektabilitas dan populeritas Jokowi sudah di atas Prabowo. Jelas PDIP sebagai partai politik (Parpol) di belakang Jokowi akan sulit menerima jagoannya hanya menempati poisisi Wapres. Apalagi jika hasil Pileg PDIP mengungguli Partai Gerindra. Faktor kuncinya ada pada Megawati Soekarnoputri, terutama menyangkut kebersaran hatinya untuk merestui Jokowi menjadi Capres.

Ada fenomena menarik di balik meroketnya nama Jokowi. Tampilnya nama Jokowi ke papan atas bakal Capres sangat berbeda dengan tokoh lainnya. Hal itu dapat dilihat dari strategi dan upaya yang telah ditempuh, di mana bakal Capres lain dengan rekayasa dan sengaja memperkuat populeritasnya, antara lain dengan menabur iklan dan pencitraan melalui berbagai media.

Simak iklan tokoh yang mencoba memperkokoh ketokohannya yang tersebar di berbagai stasiun televisi nasional dan situs berita nasional. Bahasa dan pesannya nyaris sama. Dengan kata lain para bakal Capres itu dengan sengaja mencari perhatian dan meminta diperhatikan, mencari dukungan dan meminta didukung.
Hal seperti itu tidak terjadi pada Jokowi, yang sampai saat ini masih malu-malu kucing untuk berterus-terang soal pencapresan, atau jangan-jangan memang Jokowi tidak berminat. Bisa juga Jokowo sedang menunggu lampu hijau dari sang ketua umum. Jika benar Jokowi tidak berminat masuk bursa Capres, yang paling bersorak-bergembira tentu saja Kubu Prabowo.  Hal itu terutama karena posisi elektabilitas dan poluleritas Prabowo menurut berbagai survey umumnya menempati peringkat kedua setelah Jokowi.

Tantangan yang dihadapi bangsa dan Negara Indonesia semakin berat. Dalam hal ini sangat diperlukan figur kepemimpinan nasional yang mumpuni, yang sanggup dan mampu membawa Indonesia berjaya. Modal Capres-Cawapres bukan sekedar elektabilitas dan poluleritas, namun juga kapabilitas dan integritas. Hendaknya rakyat jangan salah pilih dalam memilih wakilnya di lembaga legislatif dan dalam menentukan Presiden dan Wakil Presiden. Jika salah pilih, maka kondisi negara akan semakin amburadul. Sudah saatnya untuk membenahi bangsa dan Negara melalui pemerintahan yang kuat, adil, kreatif dan produktif. Dalam kurun lima tahun pasca 2014 Republik Indonesia diharapkan bisa muncul sebagai negara yang maju, minimal sejajar dengan negara-negara yang terkemuka di Asia Tenggara. Dengan demikian, pasangan Jokowi-Prabowo atau Prabowo-Jokowi, ataupun pasangan lainnya yang mendapat  mandat dari rakyat, diharapkan dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. (Atep Afia)

Sumber Gambar:
wartaekonomi.co.id




11 comments:

  1. Jokowi telah di tunjuk menjadi capres di pemilu tahun ini. Pada pemilu tahun ini ada capres yang mencalonkan diri dan ada pula capres yang di calonkan oleh partainya. mudah mudahan baik yang mencalonkan atau yang di calonkan dapat membawa Indonesia lebih maju.

    ReplyDelete
  2. Dari sudut pandang demokrasi kita diperkaya dengan suara orang banyak, tidak lagi bergantung pada mereka yang tergantung pada mereka yang disebut pemimpin atau elit, dan pada pemilu tahun ini saya kira tidak akan membawa perubahan yang maximal untuk Indonesia. Kia lihat capres yang mengisi bursa pemilihan Presiden belum ada yang bisa menjajikan perubahan untuk Indonesia. Prabowo sang Capres yang punya record buruk dengan Kejahatan HAMnya atau JOKOWI menurut saya dia hanya capres boneka. Kita disugui One Man Show oleh media dengan Jokowi sebagai aktor utamanya. Memimpin INDONESIA tidak cukup dengan Populeritas dan Elektabilitas.

    ReplyDelete
  3. Penetapan pemimpin bangsa yang akan segera berlangsung ini memang selalu menarik untuk disimak. Jokowi maupun Prabowo sama-sama memiliki hak untuk menjadi capres karena keduanya adalah warga negara indonesia, namun kembali pada elektabilitas masing-masing. Hasil survei dari berbagai lembaga menunjukkan Jokowi ada di peringkat pertama sedangkan Prabowo ada di tingkat kedua dan Jokowi memang memiliki karakter yang berbeda dari masing-masing capres yang telah mengajukan diri..dengan cara kerja yang cepat dan tepat selama ini yang ditunjukan saat menjabat Gubernur Jakarta tentu sudah dapat memberi gambaran bagaiman kinerjanya selama ini dan pantas menjadi capres yang diidamkan rakyat.

    Saat ini rakyat sudah pintar, mana yang pantas dipilih atau tidak. Mari kita tunggu pada tgl 9 April 2014 untuk mendapat jawaban dari kegundahan akan pemimpin yang kita tunggu-tunggu.

    #indonesia ayo bangkit...

    ReplyDelete
  4. sebenarnya sempat jadi pertanyaan kenapa pak jokowi tidak menuntaskan problematika di Jakarta,
    untuk mengatasi Jakarta saja masih belum bisa di katakana berhasil, mungkin sebagian media telah menjadikan jokowi anak kesayangan dangan gaya belusukannya yang menjadi sorotan,
    tetapi apakan dia akan bisa menghadapi tantangan lebih besar dari Jakarta,
    alangkah lebih baiknya di buktikan dahulu mengatasi Jakarta.

    tetapi yang menjadi kendala juga adalah korupsi,
    sepertinya jokowi lebih cocok untuk membantu menjadi ketua DPR/MPR untuk membongkar ketidak sesuaian selama ini. dengan gaya belusukannya,sehingga mengurangi korupsi.

    ReplyDelete
  5. Jokowi memang mempunyai etikat baik dan kinerja yang baik dan dikenal banyak orang dengan kerja nyatanya lewat media televisi.
    Untuk memimpin sebuah propinsi memang telah diakui Pak Jokowi sudah Mumpuni terbukti Solo dan Jakarta mempunyai perubahan yang baik.
    Namun kalau disandingkan dengan kancah internasional. Menurut saya Jokowi masih kuranb memiliki Talenta untuk bersaing dengan dunia Internasional.
    Sedangkan Prabow Subianto yang selalu eksis baik melalui media massa,televisi dan surat kabar serta lewat media jejaring sosial yang gemar meng upload foto dan video tentang dirinya yang mengunjungi dan bersosialisasi ke daerah2 pelosok dan bahkan dengan negara negara lain. Menurut saya dengan begitu jelas terlihat bahwa minat dan tekad Pak Prabowo untuk membawa perubahan di Negri ini untuk menjadi Macan Asia akan terwujud.
    Dengan Visi Misinya saya berharap dan saya yakin. Prabowo lebih mumpuni dari pada Pak Jokowi.

    ReplyDelete
  6. joko wi lebih dipandang masyarakat,lebih dekat dengan msyarakat tentunya masyarakat kelas menengah,tetapi menurut saya untuk next menjadi persiden masih kurang ya,secara talenta di banding prabowo.tetapi kepemimpinan ini dipilih berdasarkan suara rakyat dan hasilnya pun untuk rakyat,tidak membedakan apakah calon tersebut dari partai yang kuat dan kaya,terkadangpun masyarakat lalai,rela mengadadaikan perutnya demi uang untuk 5 tahun kedepan.yah apapun nanti dan siapapun nanti pemimpinnya harapannya mempunyai kepemimpinan yang baik dan bertanggung jawab

    ReplyDelete
  7. joko wi lebih dipandang masyarakat,lebih dekat dengan msyarakat tentunya masyarakat kelas menengah,tetapi menurut saya untuk next menjadi persiden masih kurang ya,secara talenta di banding prabowo.tetapi kepemimpinan ini dipilih berdasarkan suara rakyat dan hasilnya pun untuk rakyat,tidak membedakan apakah calon tersebut dari partai yang kuat dan kaya,terkadangpun masyarakat lalai,rela mengadadaikan perutnya demi uang untuk 5 tahun kedepan.yah apapun nanti dan siapapun nanti pemimpinnya harapannya mempunyai kepemimpinan yang baik dan bertanggung jawab

    ReplyDelete
  8. Memang benar sekali menjadi pemimpin indonesia itu tak hanya modal popularitas,akan tetapi menjadi pemimpin itu yanmg berwibawa dan intelektual tinggi untuk meningkatkan indonesia lebih maju dari yang sekarang.

    ReplyDelete
  9. menurut saya keduanya memiliki keunggulan masing masing walaupun dalam pemilu kedua kubu saling menyerang untuk menjatuhkan lawan, jokowi memiliki kelebihan dalam birokrasi dan prabowo memilik wibawa dan ketegasan karna latar belakang militernya, bahkan sempat terpikir jika prabowo dan jokowi menjadi pasangan capres dan cawapres, tapi politik merubah segalanya, yang sekarng bisa diharapkan hanyalah pemimpin yang mampu menjalankan amanat rakyat

    ReplyDelete
  10. kedua pasangan capres diatas memiliki talenta dan karakteristik masing2.
    Jokowi, mempunyai sosok pemimpin yg jujur dan sederhana serta mudah berbaur dengan rakyatnya.
    Prabowo, mempunyai sosok pemimpin yg tegas dan berwibawa.
    Rakyat telah memilih, semoga Pak Jokowi dapan membawa Indonesia menjadi lebih hebat dari sebelumnya.

    ReplyDelete
  11. Pada masa pemilihan calon presiden dan wakil presiden, banyak sekali problematika seputar pencitraan dan saling ejek satu sama lain, baik berupa kampanye hitam maupun akun akun palsu yang menjatuhkan satu sama lain.
    akan tetapi kini kita telah mandapati Presiden baru kita yaitu Bapak Ir. Joko Widodo dengan harapan, terpilihnya beliau dapat menyelesaikan problematika yang terjadi di Indonesia, dan dapat menjadikan beliau sebagai sosok pemimpin yang amanah. Aamiin Ya Rabbal alamin

    ReplyDelete