Apr 20, 2013

Was-was Menunggu 2014

Oleh : Atep Afia Hidayat - Dua ribu empat belas adalah tahun yang sangat dinanti oleh kebanyakan orang Indonesia. Kenapa ? Karena 2014 penuh asa dan menimbulkan harap-harap cemas. Berharap terjadinya perubahan yang positif, setidaknya terjadi kebangkitan nasional. Bercemas terjadinya perubahan yang negatif, terutama jika terjadi kebangkrutan nasional.

Tidak ada satu pihak pun yang bisa memastikan dan menjamin bahwa mulai 2014 bangsa Indonesia akan bertambah baik, begitu pula sebaliknya. Tidak seorang manusia pun yang tahu. Ya, 2014 bakal digelar salah satu pesta demokrasi terbesar di dunia. Namun jika membandingkan dan melihat pencapaian dari pesta demokrasi 2009, seolah menjadi skeptis. Ternyata proses demokrasi yang berongkos sangat mahal itu tidak menghasilkan kondisi bangsa dan negara yang lebih baik. Bisa dikatakan sarua keneh, sami mawon atau sama saja, jika dibandingkan dengan era di mana demokrasi masih terbelenggu.

Proses demokrasi belum menghasilkan pemerintah yang piawai dan unggul, sehingga rakyat dan negara bisa terkelola dengan baik. Mungkinkah karena rakyat salah memilih, atau ada yang salah dalam penyelenggaraan dan proses demokrasi. Menjelang Pemilihan Umum 2014 (Pemilu 2014), para aktor perpolitikan nasional sudah mulai bersiap. Ada pemain baru yang benar-benar baru, ada pemain baru padahal wajah lama, tentu saja pemain lama masih tetap eksis. Tak heran dalam penjajakan calon presiden muncul istilah loe lagi loe lagi (L-4). Pemilu 2014 bakal menjadi ajang pertarungan sengit antara berbagai kelompok politik untuk memperebutkan kekuasaan tertinggi di negara berpenduduk terbesar keempat di dunia ini.

Meskipun sejatinya demokrasi adalah untuk rakyat, dari rakyat dan oleh rakyat, namun seringkali hasil akhir hanya menyisakan kepedihan rakyat. Bagai kacang lupa kulitnya, setelah dinyatakan sebagai pemenang pesta demokrasi, malah janji terhadap rakyat begitu saja dilupakan. Kondisi saat ini memberikan gambaran yang sangat transparan, di mana banyak tokoh politik, wakil rakyat dan pengelola negara malah menghamburkan dan menilep uang rakyat. Terlalu.

Padahal kalau kilas balik digelar, pada kampanye Pemilu 2009 lalu begitu rajin menggembar-gemborkan anti korupsi dan pro rakyat. Hal yang terjadi ternyata pemerintahan yang terbentuk sama sekali tidak bisa mengurangi aktivitas para koruptor. Di sisi lainnya, pemerintahan yang terbentuk tidak mampu melindungi kepentingan rakyat kecil. Diberbagai pelosok negeri banyak wong cilik atau jelema leutik yang tertindas. Keberadaannya terhempas arus kapitalisme yang makin tidak terbendung.

Potret hasil buram Pemilu 2009 seyogyanya menjadi bahan pembelajaran dan referensi bagi rakyat, supaya lebih kritis dan cerdas dalam menentukan wakil-wakilnya di parlemen, dan dalam memilih siapa yang akan menjadi mandatarisnya. Hindari memilih Parpol dan bakal calon yang abal-abalan dan bereputasi buruk. Kondisi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mendatang, sangat ditentukan oleh pesta demokrasi yang akan digelar tahun 2014. Nah, 2014 bangkit atau bangkrut ? (Atep Afia/KangAtepAfia.com)



1 comment:

  1. wida isdyantie
    @E31-wida
    @Tugas B05

    indonesia adalah negara demokrasi, namun pada saat ini demokrasi indonesia dapat dikatakan kurang baik, mengapa? karena banyak yang menggunakan demokrasi dengan seharusnya. misalnya saja pada saat kampanye , para calon yang akan maju terkadang menggunakan uang atau yang lainya untuk menarik hati masyarakat, disini jelas terlihat bahwa demokrasi bisa digantikan dengan uang, saya juga setuju dengan pernyataan diatas bahwa para calon hanya memberikan janji palsu, apa yang dijanjikan tidak direalisasikan.
    "semoga NKRI menjadi negara Demokrasi yang baik"

    ReplyDelete

Note: Only a member of this blog may post a comment.