.

Aug 29, 2013

Tingkat Partisipasi Kuliah Di Jawa Barat Paling Rendah

Oleh : Atep Afia Hidayat  - Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, Bogor dan Depok memang memiliki beberapa perguruan tinggi yang termasuk kelompok terbaik di Indonesia, seperti ITB, UI, IPB dan Unpad. Berbondong-bondong calon mahasiswa dari Jawa Barat, provinsi lain bahkan dari negara tetangga mendaftar di perguruan tinggi tersebut. Namun ternyata dalam tingkat partisipasi masyarakat Jawa Barat untuk kuliah di perguruan tinggi  tergolong yang paling rendah di Indonesia. 


Adalah Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (dalam Kompas, 27 Juli 2013), kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh,saat meresmikan Kampus ITB di Jatinangor,  meminta supaya pemerintah memperbanyak jumlah perguruan tinggi negeri di Jawa Barat untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) jenjang pendidikan tinggi.

Selanjutnya diungkapkan Heryawan, bahwa APK pendidikan tinggi di Jawa Barat tahun 2012 mencapai 15,5 persen. Ahmad menilai angka ini masih jauh di bawah rata-rata nasional yang mencapai 28 persen. Menurutnya mahasiswa asli Jawa Barat yang bisa masuk ke PTN hanya 15 persen dan yang masuk PTS hanya 5 persen. Lantas, apakah yang dimaksud dengan APK, mari kita telusuri lebih lanjut.

Partisipasi Kuliah
Menurut situs Badan Pusat Statistik (BPS), APK merupakan istilah statistik yang merupakan angka perbandingan antara banyaknya murid dari jenjang pendidikan tertentu dengan banyaknya penduduk usia sekolah pada jenjang yang sama dinyatakan dalam persen. Misalnya, GER Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Berdasarkan laporan BPS-APK antara tahun 2003 – 2012, ternyata tidak ditemukan APK untuk jenjang pendidikan tinggi, yang ditampilkan hanya sebatas SD/MI/Paket A; SMP/MTs/Paket B; dan SMA/SMK/MA/Paket C.  Selain itu ditemukan istilah statistik angka partisipasi murni, yang juga tidak mencantumkan jenjang pendidikan tinggi.

Dalam laporan BPS - APS memang ada kelompok data propinsi yang diklasifikasikan berdasarkan kelompok usia, salah satu di antaranya 19 – 24. Data inilah yang sesuai dengan rentang usia seorang mahasiswa pada umumnya, yaitu saat masuk rata-rata 19 tahun, dan ketika lulus rata-rata berusia 24 tahun. Tampaknya inilah yang dimaksud dengan angka partisipasi sekolah untuk jenjang pendidikan tinggi atau angka partisipasi kuliah (APKul). Dalam hal ini Angka partisipasi kuliah bisa diartikan sebagai angka perbandingan antara banyaknya mahasiswa dengan banyaknya penduduk usia kuliah yang dinyatakan dalam persen.

Lantas, bagaimana kondisi data untuk angka partisipasi kuliah di Jawa Barat sesuai data yang paling mutakhir, yaitu tahun 2012 ? Ternyata penduduk dalam rentang usia 19 – 24 tahun yang sedang mengikuti pendidikan hanya 12,37 persen, berada pada peringkat 29 dari 33 provinsi yang ada. Sedangkan rata-rata nasional mencapai 16,13 persen. Pencapaian angka partisipasi kuliah di Jawa Barat tersebut jauh di bawah provinsi dengan peringkat lima besar seperti DI Yogyakarta (44,18 persen); Maluku (29,39 persen); NAD (28,79 persen); Sumatera Barat (27,80 persen); dan Sulawesi Tenggara (23,95 persen). Sedangkan daerah lain yang angka partisipasi kuliahnya lebih rendah dari Jawa Barat ialah Jawa Tengah (11,98 persen); Lampung (11,85 persen); Kepulauan Riau (9,84 persen); dan Kepulauah Bangka Belitung (9,01 persen).

Jumlah Mahasiswa
Berdasarkan data tahun 2011 jumlah penduduk Jawa Barat mencapai 43,8 juta jiwa, sedangkan yang tergolong usia kuliah sekitar 3,6 juta jiwa, dengan angka partisipasi kuliah yang hanya 12,37 persen, berarti pemuda Jawa Barat yang menempuh jenjang pendidikan tinggi  kurang dari setengah juta orang. Data pendidikan tinggi tahun 2009 – 2010 untuk katagori gambaran umum perguruan tinggi tiap provinsi menunjukkan, ternyata jumlah mahasiswa di Jawa Barat mencapai 462.149 orang, 139.665 (30,22 persen) kuliah di PTN, dan 69,78 persen kuliah di PTS. Ternyata berbeda dengan apa yang dikemukakan Heryawan, yang menyebutkan bahwa mahasiswa asli Jawa Barat yang bisa masuk ke PTN hanya 15 persen dan yang masuk PTS hanya 5 persen, dalam hal ini justru daya serap PTS di Jawa Barat jauh lebih besar dibanding PTN, yaitu dengan komposisi 7 : 3.

Adapun mengenai mahasiswa asal SMA di Jawa Barat yang diterima di PTN Jawa Barat, sebagai contoh di Unpad tahun 2012 mencapai 49,7 persen, tahun sebelumnya 52 persen. Dari persentasi mahasiswa asal Jawa Barat tersebut, 51 persen berasal dari SMA yang ada di Bandung, selebihnya dari 25 kota dan kabupaten lainnya. Demikian menurut Rektor Unpad, Ganjar Kurnia, sebagaimana dikutip dari antarajawabarat.com.  Sedangkan kondisi di ITB tahun 2013, menurut Rektor ITB, Akhmaloka (dalam inilahkoran.com), bahwa 40 persen dari 3.500 mahasiswa baru ITB berasal dari Jawa Barat, selebihnya berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Jadi secara substansi apa yang dikemukakan oleh Gubernur Jawa Barat itu benar, meskipun secara data kurang akurat. Lantas, bagaimana solusi untuk meningkatkan angka partisipasi kuliah tersebut ?

PTN Baru ?
Dalam kesempatan yang sama Heryawan juga menjelaskan, bahwa kebutuhan akan PTN baru mendesak, terutama di Tasikmalaya, Cirebon, Bekasi, Karawang, Purwakarta dan Subang. Lantas apa alasan keenam daerah tersebut lebih diprioritaskan dibanding daerah lainnya ?
Sebagai catatan PTN di Jawa Barat tersebar di daerah-daerah Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang (ITB); Kota Bandung dan Kabupaten Sumedang (ITB); Kota Depok (UI); Kota dan Kabupaten Bogor (IPB);  Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Kabupaten Sumedang dan Kabupaten Purwakarta (UPI); serta UIN Sunan Gunung Jati (Kota Bandung). Dengan demikian dari 26 kota dan kabupaten yang ada di Jawa Barat, sudah ada tujuh daerah yang menjadi tempat beroperasionalnya PTN.  Dengan sendirinya tinggal 19 daerah yang belum memiliki PTN atau minimal dijadikan lokasi tempat beroperasionalnya PTN.

Kalau mengacu pada jumlah penduduk setiap daerah (BPS Jabar 2011)  yang identik dengan jumlah penduduk usia kuliah, maka daerah yang paling membutuhkan kehadiran PTN ialah : Kabupaten Bandung (3,24 juta jiwa); Kabupaten Bekasi (2,68 juta jiwa); Kota Bekasi (2,38 juta jiwa);  Kabupaten Garut (2,45 juta jiwa); Kabupaten Sukabumi (2,38 juta jiwa); Kabupaten Cianjur (2,21 juta jiwa); Kabupaten Karawang (2,17 juta jiwa); dan Kabupaten Cirebon (2,10 juta jiwa).  Dalam hal ini kondisi Kabupaten Bandung dibidang pendidikan tinggi tertinggal oleh tetangganya Kabupaten Sumedang yang menjadi lokasi beroperasionalnya beberapa PTN (ITB, Unpad, dan UPI). Dalam hal ini jumlah penduduk Kabupaten Bandung sekitar 3,75 kali jumlah penduduk Kabupaten Purwakarta dan 2,19 kali jumlah penduduk Kabupaten Subang, dua daerah yang masuk dalam usulan Heryawan untuk segera memiliki PTN.

Bantuan Beasiswa
Angka partisipasi kuliah di Jawa Barat perlu diperbaiki, selain dengan menambah jumlah PTN juga dengan meningkatkan kualitas dan motivasi  lulusan SMA, SMK dan MA. Dalam hal ini ada empat kelompok lulusan sekolah lanjutan tingkat atas: Kelompok pertama yang mau dan mampu untuk kuliah; Kelompok kedua  yang mau tetapi tidak mampu; Kelompok ketiga yang tidak mau tetapi mampu; dan Kelompok keempat yang tidak mau dan tidak mampu.

Khusus menyangkut aspek ketidakmampuan dalam hal biaya, hendaknya berbagai jenis beasiswa seperti Beasiswa Pendidikan bagi Mahasiswa Miskin Berprestasi (Bidikmisi) benar-benar tepat sasaran. Sebagai catatan anggaran Bidikmisi tahun 2013 mencapai Rp 1,96 triliun, dibagikan kepada 88.142 mahasiswa sebesar Rp. 600.000 per bulan untuk biaya hidup dan biaya kuliah (Kompas, 27 Juli 2013). Menurut Ketua Umum Panitia Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN 2013), Akhmaloka (dalam okezone.com)  , bahwa Bidikmisi ditegaskan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2010 dan Permendiknas Nomor 34 Tahun 2013. Disebutkan bahwa SBMPTN terintegrasi dengan program Bidik Misi di mana minimal 20 persen mahasiswa baru yang diterima lewat SBMPTN harus merupakan mahasiswa tidak mampu secara ekonomi. Selanjutnya disebutkan bahwa total mahasiswa baru yang diterima mencapai 109.853 peserta. Untuk Bidik Misi yang diterima 13.470 dari 55.975 pendaftar. Non Bidik Misi sebanyak 96.383 dari 529.814 pendaftar.

Begitu pula dengan beragam skema beasiswa lainnya seperti Beasiswa dan Bantuan Biaya Pendidikan Peningkatan Prestasi Akademik (BBP-PPA), serta beasiswa yang bersumber dari berbagai institusi pemerintah, dunia usaha, kelompok masyarakat, dan sebagainya, hendaknya dikelola secara amanah dan transparan, sehingga diterima oleh mahasiswa yang benar-benar berhak.

Melirik PTS
Ada ratusan ribu bakal calon mahasiswa yang berdomisili di 17 Kabupaten, 9 Kota,  620 Kecamatan, 5.242 Desa dan 632 Kelurahan di seluruh Jawa Barat yang sangat memerlukan bantuan guna menggapai cita-citanya untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Diharapkan angka partisipasi kuliah masyarakat Jawa Barat bisa meningkat, setidaknya mencapai angka 20 persen. Selain melalui pembukaan PTN baru dan perluasan beasiswa, Pemda Jawa Barat pun harus lebih kreatif, misalnya membantu PTS yang ada di Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. ITB saja yang sudah sangat mapan mendapat bantuan anggaran Rp 12 miliar per tahun selama tiga tahun untuk pengembangan kampusnya di Jatinangor, sudah selayaknya 383 PTS yang ada mendapat perhatian serupa. Sebagaimana PTN, sebenarnya PTS pun sama-sama berjuang untuk mencerdaskan bangsa. Lebih elok jika Pemda Jawa Barat tidak menganak-tirikan PTS dan menganak-emaskan PTN. (Atep Afia).


Sumber Gambar:
http://id.wikipedia.org/



32 comments:

  1. kalau menurut pendapat saya pribadi apa yang menyebabkan rendahnya tingkat kesadaran masyarakat khususnya yang disorot diatas adalah provinsi jawa barat dikarenakan masih banyaknya daerah-daerah tertinggal yang jauh dari pendidikan layak, kemudian tingkat kemiskinan kebanyakan masyarakat yang masih tinggi, serta kesadaran akan pentingnya pendidikan yang kurang. dimana mereka kebanyakan hanya memikirkan jika setelah lulus dari sekolah tertinggi SMA mereka biasanya akan berpindah haluan pemikiran untuk bekerja saja demi membantu perekonomian keluarga dibanding mencari informasi-informasi beasiswa untuk meneruskan ke bangku perkuliahan, selain digalakan banyaknya beasiswa-beasiswa yang harus digelontorkan saya rasa juga perlu menanamkan sosialisasi pentingnya pendidikan tinggi untuk masyarakat. karena menilik pernyataan anies baswedan tokoh pendidikan yang sekarang banyak disorot media karena peranya dalam dunia pendidikan khususnya pendidikan untuk daerah-daerah tertinggal yaitu siapa dididik apa menentukan duduk dimana, yang artinya sangat mudah dipahami yaitu jika kita berfikir untuk meneruskan pendidikan sampai jenjang tertinggi seperti strata pasti kualitasnya akan diperhitungkan dan akan dilirik daripada yang pendidikanya SLTA sehingga menentukan porsi atau jenjang pekerjaan juga, tapi selain itu yang penting juga adalah skill, dimana banyak juga diluar sana yang terbukti dan membuktikan diri bahwa walau hanya lulusan slta atau dibawahnya mereka bisa sukses membangun hidup yang lebih layak, tapi bagi saya pribadi tetap pendidikan itu segalanya, dan mata uang yang bisa berlaku di negara manapun.

    ReplyDelete
  2. cara menghitung APK kuliahnya bagaimana ya ?

    ReplyDelete
  3. pendapat saya sih mungkin karena faktor ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perkuliahan dikarenakan kalau di daerah biasanya perkuliahan itu sangat mahal sehingga yang yang ekonominya di bawah tidak memungkinkan untuk melanjutkan,apa lagi di jawa barat juga kan masih bnyak desa desa yang terpencil sehingga luput dari perhatian pemerintah daerah maupun pusat.yang harus di perbaiki juga faktor ekonomi di daerah jawa barat khususnya dan memperluas perguruan tinggi dan biaya yang terjangkau agar anak didik setelah tamat SMA bisa melanjutkan perguruan tinggi agar tidak tertinggal oleh daerah lainnya. namun jika seorang tersebut punya keinginan untuk melanjutkan perkuliahan faktor ekonomi tidak menjadi pengaruh karena setiap niat pasti ada jalan

    ReplyDelete
  4. Selamat Siang Pak,

    Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan masyarakat, memiliki peranan yang penting dalam upaya peningkatan IPM di Jawa Barat, namun pola relasi yang terjalin saat ini antara ketiganya masih belum optimal.
    Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah atau sebaliknya, harus memiliki orientasi yang sama terhadap masyarakat. Ketika tidak terjadi kesamaan, masing-masing pihak mencoba berupaya berorientasi pada pihak yang lainnya. Pemerintah Daerah sebagai pemegang kebijakan (regulator), pendorong dan pemfasilitasi (enabler) harus mengkoordinasikan kebutuhan-kebutuhan masyarakat Jawa Barat dalam upaya peningkatan IPM kepada pihak Perguruan Tinggi, sehingga antara kebutuhan yang tengah menjadi fokus perhatian Pemerintah Daerah pada masyarakat akan sama dengan fokus perhatian kalangan akademis terhadap masyarakat.
    IPM Jawa Barat masih jauh tertinggal dibanding propinsi lainnya.
    Sebagaimana dinyatakan oleh Gubernur Jawa Barat.Pemerintah Provinsi Jawa Barat hendaknya mengembangkan kerjasama dengan Perguruan Tinggi
    Negeri dan swasta, agar memperoleh masukan dari sudut pandang akademis.Dengan kerjasama ini, Pemda bersama Perguruan Tinggi dapat mengembangkan penelitian, bukan saja dibidang pemerintahan,tetapi juga aspek-aspek lain yang tercakup dalam bidang pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan.

    Peran Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah bahkan juga masyarakat dalam mencapai keberhasilan Jawa Barat untuk meningkatkan IPM memerlukan pemantapan strategi, di antaranya perlunya peningkatan di sektor kesehatan, pendidikan dan daya beli masyarakat.

    Dalam perspektif teori sistemPerguruan Tinggi, Pemerintah Daerah dan masyarakat adalah sebuah sistem sebagai suatu keseluruhan yang mencakup struktur, hubungan, dan perilaku di mana adanya sebuah interdependensi yang menunjukkan bahwa terdapat suatu kesaling bergantungan di antara ketiganya.

    Kita dapat menggunakan sistem Pola Relasi Segitiga emas


    1.Pola relasi antara Perguruan Tinggi dengan Pemerintah Daerah terjadi secara timbal balik dan simultan, jalinan kuat dikokohkan oleh bangunan segitiga dalam satu rantai yang sama berdasarkan nilai tambah yang dimiliki oleh keduanya sebagai upaya peningkatan IPM di Jawa Barat

    2.Pola relasi antara Perguruan Tinggidengan masyarakat terjadi secara timbal balik dan simultan, jalinan kuat dikokohkan oleh bangunan segitiga dalam satu rantai yang sama berdasarkan nilai tambah yang dimiliki oleh keduanya sebagai upaya peningkatan IPM di Jawa Barat.

    3.Pola relasi antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat terjadi secara timbal balik dan simultan, jalinan kuat dikokohkan oleh bangunan segitiga dalam satu rantai yang sama berdasarkan nilai tambah yang dimiliki oleh keduanya sebagai upaya peningkatan IPM di Jawa Barat.

    solusi,yakni :

    1.Perlu adanya penelitian tentang implementasi pola relasi segitiga emasini dengan melibatkan pihak Perguruan Tinggi, Pemeri
    ntah Daerah danmasyarakat;
    2.Adanya evaluasi dan sosialisasi tentang pola relasi ini secara
    komprehensif sehingga Perguruan Tinggi, Pemerintah Daerah, dan
    masyarakat paham akan peran dan fungsinya dalam konteks
    pembangunan manusia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut saya tingkat rendahnya partisipasi masyrakat jawa barat kepada partisipasi perkuliahan dikarenakan adanya tinkt ekonomi yang kurang mampu sehingga untuk melajutkan tingkat pendidikan di perkuliahan menjadi kendala karena adanya faktor ekonomi yang kurang tersebut

      Delete
  5. APK di jawa barat rendah karena ekonomi yang rendah pula, orang tua sendiri pun pasti akan menyuruh anak nya bekerja setelah lulus SMA sederajat, agar bisa sedikit membantu perekonomian keluarga. Oleh karena itu, perlu dipertimbangkan dalam hal masuk PTN, agar anak yang mampu ( mampu bukan dari segi ekonomi ) bisa melanjutkan pendidikan.

    ReplyDelete
  6. mungkin benar pak apa yg di kata kan teman" di atas, sumber utama dalam permasalahan ini adalah faktor ekonomi yang membuat, tingkat partisipasi perkuliahan di jawa barat rendah, karna mungkin mayoritas penduduk di jawa barat tergolong dari golongan menegah ke bawah,,
    dan mungkin menurut mereka sudah lulus SMA itu sudah cukup untuk bisa mendapat kan pekerjaan yang layak pak.,
    jadi kita bisa ambil kesimpulan pak mungkin mereka lebih memilih bekerja di banding kan untuk berkuliah...

    ReplyDelete
  7. Selamat pagi pak ,

    menurut pendpat saya , mengenai minat anak anak jawa barat untuk bersekolah masih rendah dikarenakan di daerah jawa barat kondisi ekonominya masih relatif rendah jadi biasanya saat anak sudah selesai mengeyam bangku SMA biasanya para orang tua cenderung untuk mnegyruh anak anak mereka untuk berkerja daripada untuk melanjutkan ke perguruan tinggi , selain itu gaya hidup anak anak jawa barat yang cenderung metropolis atau modern menuntut mereka untuk bisa mencar uang sendiri sehingga dengan mencari uang sendiri mekeka dapat memenuhi keputuhan pribadinya tampa harus minta dari orang tua . Selain faktor tersebut faktor ekonomi juga menunjang mereka untuk tidak bersekolah , karena tidak ffdi pungkiri untk masuk ke perguruan tinggi saat ini membutuhkan dana yang relatif tidak sedikit , maka dengan kondisi seperti ini peran pemerintah dalam upaya memajukan bangsa sangat penting , seperti memberikan bantuan kepada siswa kurang mampu , memberika bantuan kepada siswa berprestasi sehingga mereka dapat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi .

    ReplyDelete
  8. Selamat malam pak..

    Menurut pendapat saya kenapa jumlah peserta didik yang kuliah lebih sedikit di banding jumlah penduduknya itu karena berbagai macam faktor yaitu:
    a.Faktor Ekonomi
    b.Faktor Kesadaran masyarakat
    c.Faktor Pengetahuan masyarakat
    d.Kurangnya mediasi dari pemerintah tentang pentingnya sekolah tinggi.
    itulah pendapat saya mengenai artikel ini semoga bermanfaat sekian terimakasih.

    ReplyDelete
  9. selamat pagi pak

    maap pak bukan nya di daerah jawa barat banyak sekali universitas terkemuka yang menghasilkan pelajar terbaik,,trus apakah APK itu penting ?

    ReplyDelete
  10. bukannya kurang partisipasi tetapi mayoritas warga di jawa barat lebih memilih merantau atau berkuliah di kota lain, hal ini mungkin karena sedikitnya pilihan jurusan yang ternama ( terakreditasi A ) atau bisa juga karena faktor minat.
    Banyak juga kualitas sarjana yang berkualitas baik yang keluaran dari jawa barat. Misalkan dari kedokteran UNPAD dan dari polban, (sumber;keluarga saya)

    ReplyDelete
  11. menurut saya bukannya kurangnya partisipasi masyarakat Jawa Barat untuk kuliah dirumah nya sendiri (Jawa Barat) tetapi mereka tergusur oleh perantau khususnya mereka berada di luar Jawa Barat, seharusnya pemerintah membuat suatu keputusan dimana adanya batasan terhadap orang yang luar dari Jawa Barat, ada sisi positif dan negatif dari kebijakan ini. Pertama, keuntungannya adalah masayarakat Jawa Barat dapat dengan mudah kuliah dirumahnya sendiri (Jawa Barat). Kedua, kerugiaannya adalah dibatasinya orang dari luar tentu akan mengurangi kualitas Perguruan tersebut atau mungkin dapat menghilangkan pengakuan sebagai perguruan terfavorit.

    ReplyDelete
  12. Mungkin di karenakan faktor ekonomi di karenakan kehidupan di Jawa barat sudah semakin tinggi sedangkan kehidupan di jateng masih tergolong rendah, maka tidak menutup kemungkinan bagi ekonomi yang menengah lebih prefer memilih perguruan tinggi di Jateng, dan menurut saya sekelas UGM, UNY, UNNES juga tidak kalah bagus dari perguruan tinggi di Jabar.

    ReplyDelete
  13. memang faktor ekonomilah yang paling menjadi masalah terbesar. walaupaun ada bantuan tapi tidak menjangkau semuanya. cintohnya saja, bagi mereka yang dahulu mempunyai prestasi bagus dan pintar saat dia di sma ataupun di smk walaupun tidak mempunyai kekuatan ekonomi yang kuat tapi bisa melanjutkan pendidikan. tapi bagaimana bagi mereka yang biasa saja ? dan tidak mempunyai prestasi yang cemerlang dan masuk dalam ekonomi lemah, tapi mempunyai semangat dan keinginan kuat untuk melanjutkan pendidikan. disinilah seharusnya pemerintah harus lebih cerdas dan bijak sana.

    ReplyDelete
  14. faktanya, lulusan SMA di jawa barat memang memilih untuk bekerja daripada memilih untuk menersukan ke jenjang yang lebih tinggi, selain karna faktor ekonomi yang menjadi alasan mayoritas, tidak sedikit pula yang memilih untuk bekerja dulu dan kemudian dibarengi dengan kuliah seperti di kelas karyawan mercubuana ini
    terima kasih

    ReplyDelete
  15. menurut saya kenapa tingkat APK di Jawa Barat rendah disebabkan oleh faktor ekonomi karena banyak warga Jawa Barat khususnya perempuan tidak melanjutkan study nya.

    ReplyDelete
  16. menurut saya sebenarnya banyak pelajar yang sangat ingin bersekolah atau melanjutkan kuliah tetapi terhalang oleh faktor ekonomi, dan juga persaingan, banyak pelajar jawabarat yang tergeser oleh pelajar2 dari luar daerah sehingga dia harus berkuliah di luar daerahnya dia.

    ReplyDelete
  17. Salah satu faktor dari kurangnya partisipasi untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi yaitu kondisi perekonomi yang masih relatif rendah sehingga mereka lebih cenderung berkerja untuk membantu perekonomian keluarganya



    ReplyDelete
  18. kurangnya wadah pemerintah atau sedikitnya investor dalam bidang pendidikan yang masuk ke daerah Jawa Barat. sehingga mengakibatkan masih sedikitnya perguruan perguruan yang ada di daerah Jawa Barat. dan selama ini Bandung ibukota Jawa Barat sendiri menjadi kiblat para anak muda yang ingin melanjutkan kuliah di sana, tetapi tidak pada daerah lain di Jawa Barat selain bandung.

    ReplyDelete
  19. kalau menurut saya sih tingkat kemauan dari seseorang yg kurang sehingga seseorang tersebut malas untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, untuk itu peran dari pemerintah maupun sekolah-sekolah SMA sederajat untuk selalu memotivasi dan memberikan beasiswa kepada anak didiknya sehingga mereka mempunyai kemauan untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi

    ReplyDelete
  20. Menurut saya penyebab rendahnya minat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang kuliah diantaranya adalah karena belum meratnya kesejahteraan ekonomi dijawa barat yang menyebabkan mereka merasa enggan melanjutkan ke pendidikan karena mereka berfikir berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pendidikan kuliah,dan mereka lebih memilih untuk mencari pekerjaan yang mereka pikir itu jauh lebih penting untuk menunjang perekonomian.

    ReplyDelete
  21. Rendahnya minat untuk melanjutkan pendidikan ke PT di Provinsi Jawaa Barat ditengarai karena kondisi ekonomi masyarakatnya yang memang masih rendah. Ditambah lagi jumlah PT di Provinsi Jawa Barat yang masih kurang mencukupi dibandingkan dengan jumlah penduduk yang memasuki masa usia kuliah. Hal ini terlihat tidak hanya pada tingkat PT tetapi juga pada tingkat SD, SMP, dan SMA yang mana kondisi sekolah dan infrastruktur penunjang sekolah yang kurang memadai. Kondisi ini menjadi pemicu masyarakat enggan untuk melanjutkan pendidikan ke PT. Menurut mereka sudahlah cukup sekolah sampai SMA saja. Mereka memilih untuk bekerja selepas tamat SMA.

    ReplyDelete
  22. Memang kebanyakan orang / masyarakat di jawa barat lebih memilih lulus kuliah langsung bekerja di industri , mungkin karena ekonomi dan kurangnya tingkat keinginan untuk melanjutkan kuliah karena kebanyakan orang tua yang masih jadul menganggap buat apa permpuan kuliah toh setelah lulus kuliah baliknya ke dapur dapur juga , kadang fikiran seperti itulah yang benar benar tingkat partisispasi untuk melanjutkan di perguruan tinggi sangat rendah .

    ReplyDelete
  23. Sungguh ironis dengan data tersebut, padahal menurut saya tidak ada masalah dengan ekonomi mengenai penduduk di Jawa Barat.

    ReplyDelete
  24. Menurut pendapat saya rendahnya tingkat partisipasi kuliah didaerah jawa barat dikarenakan kurang nya pemerataan terhadap daerah daerah yang masih jauh tertinggal serta fasilitas pendidikan yang kurang memadai di daerah tersebut sehingga mereka yang berkeinginan untuk melanjutkan sekolah keperguruan tinggi terbentur oleh biaya yang tinggi yang mengharus kan mereka memilih untuk bekerja hingga keluar negri demi memperbaiki ekonomi keluarga.

    ReplyDelete
  25. salah satu halangan siswa lulusan SLTA untuk melanjutkan kuliah adalah masalah biaya.

    banyak daerah jawa barat yang menjadi sentra industri seperti daerah Bekasi, Karawang dll.
    Kebanykan lulusan SLTA langsung masuk ke industri sebagai karyawan / buruh.

    jadi harus dirubah cara pandang masyarakat perihal pendidikan tinggi. selain itu harus dilakukan pemerataan pembangunan sarana pendidikan ke daeraah-daerah.

    ReplyDelete
  26. salah satu halangan siswa lulusan SLTA untuk melanjutkan kuliah adalah masalah biaya.

    banyak daerah jawa barat yang menjadi sentra industri seperti daerah Bekasi, Karawang dll.
    Kebanykan lulusan SLTA langsung masuk ke industri sebagai karyawan / buruh.

    jadi harus dirubah cara pandang masyarakat perihal pendidikan tinggi. selain itu harus dilakukan pemerataan pembangunan sarana pendidikan ke daeraah-daerah.

    ReplyDelete
  27. Mungkin dalam hal ini di perlukan penyuluhan untuk daerah - daerah yang jauh dari area PT dan juga pihak PT lebih mengutamakan kerjasama dengan seluruh SMA & SMK untuk lebih memperkenalkan secara langsung pentingnya kuliah untuk lulusan - lulusan yang akan datang.

    ReplyDelete
  28. menurut pendapat saya di lihat dari berbagai sumber, kesadaran akan pendidikan di daerah jawa barat masih rendah, terlebih lagi faktor ekonomi yang masih relatif rendah pula menjadi faktor pendukung yang kuat. solusi yang mungkin isa dilakukan adalah penyuluhan2 di daerah akan adanya bantuan pendidikan atau beasiswa bagi calon mahasiswa yang akan menempuh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

    ReplyDelete
  29. di Jateng dan Jatim ormas Muhammadiyah banyak mendirikan PT Muhammadiyah; sangat disayangkan di Jabar, Muhammadiyah kurang progresif untuk mendirikan PT Muhammadiyah, padahal banyak kab/kota di Jabar yg masih belum memiliki PT yg kredibel; seperti di Kab Bandung, Kab Bandung Barat; Kab Indramayu; Kab Banjar; Kab Pangandaran, Kab Purwakarta ,Kab/Kota Bekasi

    ReplyDelete
  30. Beny Dwiyantoro
    @A15-BENY

    Salah satu penyebab nya faktor ekonomi yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perkuliahan dikarenakan kalau di daerah biasanya perkuliahan itu sangat mahal sehingga yang yang ekonominya di bawah tidak memungkinkan untuk melanjutkan. Dan dari tingkat kemauan dari seseorang yang kurang sehingga seseorang tersebut tidak mau untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

    ReplyDelete