.

Apr 23, 2013

Persaingan Ekonomi dan Budaya Profesionalisme


Oleh : Atep Afia Hidayat - - Di antara sistem perekonomian yang diterapkan setiap negara kini terjadi pembauran. Menyatunya berbagai sistem tersebut menunjukkan bahwa proses globalisai tengah berlangsung. Kenyataannya terjadi akselerasi dalam proses tersebut, terutama karena kemajuan teknologi informasi dan transportasi.


Perekonomian dunia semakin “sibuk”, aktivitasnya menggelembung, bahkan mampu menembus batas-batas antar negara. Belakangan ini muncul kecenderungan terbentuknya kawasan-kawasan perdagangan bebas, diprakarsai oleh Uni Eropa Amerika Utara, lantas Asean dan Asia Pasifik.

Perekonomian dunia mengalami perkembangan yang pesat, apalagi dalam, apalagi dalam suasana yang relatif damai di mana perang dingin antara blok barat dan timur telah berlalu. Kini setiap negara berlomba untuk membangun dan menumbuh-kembangkan perekonomiannya, hingga kesejahteraan rakyatnya bisa benar-benar meningkat.

Sementara dideretan papan atas negara-negara ekonomi maju terjadi persaingan ketat untuk menguasai perekonomian dunia. Saat ini Cina ada di “peringkat satu”, jauh meninggalkan Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Inggris, Perancis, Italia, Rusia dan beberapa negara “ekonomi maju” lainnya. Dalam era globalisasi ekonomi, Cina tampaknya begitu mendominasi, terutama dengan teknologi dan industri sebagai tulang punggungnya.

Di tengah-tengah persaingan ekstra ketat dideretan “papan atas”, beberapa negara tetangga Cina dan Jepang belakangan ini menunjukkan prestasi gemilang. Sebutlah Korea Selatan, Taiwan, Hongkong dan Singapura yang sempat dikenal sebagai “empat macan Asia” kini menunjukkan “prestasi ekonomi” yang mencengangkan dunia.

Boleh jadi kelompok “papan atas” perekonomian dunia mulai khawatir. Apalagi bagi Amerika Serikat dan Eropa Barat, munculnya kekuatan Asia tersebut bisa menjadi ancaman serius. Sebagaimana diketahui dalam industri-industri tertentu (seperti otomotif dan elektronika) negara-negara tersebut kalah bersaing dengan Jepang, bahkan pasaran dalam negeri masing-masing nyaris didominasi produk Jepang. Nah, kemunculan macan-macan Asia tentu saja berpotensi besar untuk membuat industri di negara-negara tersebut menjadi kalah bersaing.

Memperhatikan “prestasi ekonomi” beberapa negara Asia, terutama Asia Timur, tak berlebihan jika muncul prediksi dalam beberapa dekade mendatang perekonomian dunia kan berpusat di sekitar kawasan Asia Pasifik, dengan Cina dan Jepang motornya.

Implikasi Bagi Indonesia
Dalam hal ini memang tak ada pilihan lain, arus globalisasi ekonomi yang semakin cepat harus mampu diantiasipasi. Jika tidak maka akan sangat ketinggalan dan terpencil ditengah-tengah “kompetisi ekonomi” dunia. Tentu saja sebagai “bangsa yang besar” patut mempertahankan “kebesarannya” di segala bidang, termasuk dalam bidang ekonomi.

Semenjak bubarnya Uni Soviet menjadi beberapa negara merdeka dan berdaulat, dalam hal jumlah penduduk, Indonesia naik setingkat, yakni kini menempati peringkat keempat, yaitu setelah Cina, India dan Amerika Serikat. Dengan demikian, dalam hal jumlah penduduk kita sudah termasuk “empat besar dunia”.

Hal itu tentu saja menjadi salah satu bukti bahwa “kebesaran” Indonesia itu sudah benar-benar diakui dunia. Bisa juga dikatakan, bahwa dalam hal kuantitas sumberdaya manusia, Indonesia menempati peringkat keempat dunia. Lantas, bagaimana dalam hal kualitas, apakah peringkatnya juga termasuk “papan atas” ?

Inilah yang menjadi persoalan belakangan ini, apalagi mengingat globalisasi ekonomi yang kian merambah. Lalu seberapa jauhkah perananya dalam globalisasi tersebut, berapa persenkah pangsa pasar dunia atau perdagangan internasional yang kita kuasai ? Jawabannya, yakni sangat kecil, sangat timpang jika dibandingkan dengan kuantitas sumberdaya manusia Indonesia. Lantas, bagaimana caranya agar kuantitas yang besar tersebut bisa diimbangi dengan kualitas yang tinggi ?

Singapura adalah sebuah republik, wilayahnya meliputi pulau yang letaknya tak jauh dari Pulau Batam (Propinsi Kepulauan Riau). Sumberdaya alam Singapura jelas tak seberapa jika dibandingkan dengan Pulau Batam. Namun yang menonjol di “republik mini” ini ialah sumberdaya manusianya. Kuantitasnya tak banyak, sekitar 5 juta jiwa.

Tetapi kualitasnya, khususnya dalam bidang perekonomian, sudah sangat berkembang. Maka tak heran jika pendapatan perkapita di “negara pulau” itu sudah sangat tinggi. Ekonomi Singapura memang tumbuh pesat, hingga segera bisa beradaptasi dengan globalisasi. Bahkan, Singapura telah tampil sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia. 

Belasan tahun yang lalu muncul konsep “segi tiga pertumbuhan”,  meliputi Singapura, Batam dan Johor (Malaysia). Konsep tersebut tentu saja diharapkan mampu mengkatrol perekonomian Indonesia, dengan Batam sebagai pusat pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi Singapura yang meluber diharapkan mampu memacu pertumbuhan ekonomi wilayah sekitarnya, termasuk Batam dan daerah Kepulauan Riau lainnya.

Konsep segitiga pertumbuhan tak lain merupakan langkah antisipasi terhadap globalisasi ekonomi, yang juga diharapkan mampu menumbuh-kembangkan kualitas sumberdaya manusia di wilayah tersebut.

Dengan “didekatkannya” Singapura dan Batam serta pulau-pulau lainnya, paling tidak “etos kerja” dan “budaya profesionalisme” Singapura diharapkan bisa diteladanani. Memang erat kaitannya antara pengembangan kualitas sumberdaya dengan profesionalisme, apalagi jika dikaitkan dengan globalisasi ekonomi yang menuntut kemampuan untuk bersaing.

Tak bisa dipungkiri bahwa dalam situasi ekonomi global terjadi persaingan yang semakin erat. Keunggulan secara kuantitas, yang juga dikenal sebagai “keunggulan komparatif” sama sekali belum mencukupi. Bagaimanapun dalam situasi dan kondisi yang semakin mengglobal dituntut adanya “keunggulan kompetitif”. Untuk meraih hal itu, tak ada pilihan lain, budaya profesionalisme harus dikembangkan. Kuantitas sumberdaya manusia Indonesia memang berkekuatan sekitar 237 juta jiwa, perlu diimbangi dengan upaya pengembangan kualitasnya. 

Bagaimana agar budaya profesionalisme mengakar dan menjadi jati diri bangsa Indonesia. Hal ini merupakan tuntutan internal dan eksternal. Menyongsong era tinggal landas faktor kualitas sumberdaya manusia, termasuk budaya profesionalisme, perlu lebih ditumbuhkembangkan. Selain itu, hanya dengan kualitas yang semakin membaiklah bangsa ini bisa semakin  mantap dan stabil.

Sekali lagi profesionalisme merupakan tuntutan mutlak dalam upaya mengantisipasi globalisasi ekonomi. Dengan demikian, unit-unit ekonomi dan pelaku ekonomi di Indonesia sudah selayaknya meningkatkan perhatian terhadap hal itu. Bagaimanapun, untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang dinamis perlu didukung oleh budaya profesionalisme.

Pesatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia memang diakui dunia, hingga ada yang pernah mencalonkan sebagai “macan Asia”. Hal tersebut menjadi bukti, bahwa Indonesia berpeluang besar untuk mensejajarkan diri dengan negara-negara “ekonomi maju”. Namun persoalannya kembali pada kualitas sumberdaya manusia, terutama menyangkut budaya profesionalisme.

Setidaknya kita patut memperhatikan dengan sungguh-sungguh, bagaimana orang Jepang bekerja, bagaimana manajemen yang diterapkan di perusahaan-perusahaan Jepang. Amerika Serikat, Jerman, atau negara-negara lainnya? Bagaimana pengelolaan dan pengembangan kualitas sumberdaya manusia di negara-negara tersebut, serta bagaimana budaya profesionalisme di sana? Persoalan-persoalan itulah yang patut ditelaah dan dijadikan bahan studi kasus serta studi perbandingan.

Untuk menumbuh-kembangkan budaya profesionalisme memang bukan pekerjaan mudah, diperlukan beberapa dekade. Dengan demikian, dalam pembangunan jangka panjang berikut, hal ini perlu lebih diprioritaskan. Percepatan globalisasi ekonomi harus mampu diantisipasi agar partisipasi dan kontribusi bangsa kita bisa lebih eksis. (Atep Afia).


4 comments:

  1. @C17-WASTIONO, Tugas TC05
    Persaingan ekonomi yang sedang terjadi memang sangat lah ketat hal ini di buktikan bahwa penguasa ekonomi yang dulunya di pegang oleh amerika dan uni eropa kini berpindah tangan menjadi milik cina . kini negara tirai bambu itu jauh meninggalkan pertumbuhan ekonomi amerika uni eropa dan lainnya. Namun sayangnya indonesia yang memiliki kuantintas nomer 4 di dunia belum di barengi dengan SDM yang tinggi juga di mana budaya berfikir kritis belum serta merta di lakukan rakyat indonesia hal ini yang menjadikan indonesia belum menjadi diri sendiri sebagai bangsa yang besar dengan kualitas tinggi profesionalisme dalam ekonomi dan budaya. Sudah sepantasnya kita harus mengikuti kedisiplinan negara penguasa persaingan ekonomi dunia agar negara kita tercinta tetap eksis dan aktif dalam partisipasi percepatan perekonomi globalisasi ini. terimakasih

    ReplyDelete
  2. @B14-Haelis, Tugas TB05
    menang benar sikap dan sifat bangsa indonesia harus diubah, terutama dalam hal etos kerjanya. sebagaimana kita ingin maju dalam bidang ekonomi sudah tentu harus diubah dari hal yang paling dalam yaitu pelakunya sendiri masyarakat Indonesia. Profesionalisme bangsa Jepang dan Amerika sudah terbukti dengan majunya kedua negara tersebut dalam segala sektor terutama ekonomi. Bila rakyat bisa mengadaptasi cara kerja negara maju tersebut diharapkan negara indonesia juga bisa menjadi negara maju. Kualitas SDM juga menentukan kualitas negaranya.
    tetapi seharusnya artikel ini menjelaskan juga bagaimana cara sikap profesionalisme negara negara maju agar pembaca dapat belajar dan mempraktekkan etos kerja negara tersebut. tentunya pembaca adalah suatu sumber daya juga.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  3. @E14-Imam, @Tugas B05
    Globalisasi berdampak pada ekonomi terutama ekonomi lintas negara, jepang, china, korea jauh meninggalkan negara maju seperti amerika karna mereka memiliki kualitas dalam SDM dan produknya. Indonesia juga bisa menurut saya dengan jumlah laut yang luas, pertanian, hutan, tambang harus nya indonesia bisa hanya saja SDM kita kurang baik sehingga bisa diambil alih oleh pihak asing sebut saja freeport.

    ReplyDelete
  4. @E14-Imam, @Tugas B05
    Globalisasi berdampak pada ekonomi terutama ekonomi lintas negara, jepang, china, korea jauh meninggalkan negara maju seperti amerika karna mereka memiliki kualitas dalam SDM dan produknya. Indonesia juga bisa menurut saya dengan jumlah laut yang luas, pertanian, hutan, tambang harus nya indonesia bisa hanya saja SDM kita kurang baik sehingga bisa diambil alih oleh pihak asing sebut saja freeport. Dan harus nya kita mencontoh bagaimana negara tersebut bisa maju, apa yang mereka lakukan kita ambil positif nya bagaimana mreka bekerja

    ReplyDelete