.

Apr 23, 2013

Mengembangkan SDM Pertanian

Oleh : Atep Afia HidayatPetani adalah aktor-aktor bidang pertanian. Kalau prinsip industri mau diterapkan, petani sebagai SDM bidang pertanian harus mampu memahaminya. Lantas apakah kapasitasnya memadai, bagaimanapun untuk mengintroduksi prinsip-prinsip industri diperlukan kapasitas pengetahuan, kompetensi teknis dan inner force dalam dirinya.

Kualifikasi pendidikan menjadi modal dasar, hal itu agar prinsip-prinsip industri bisa dipahami dengan mudah lantas diaplikasikan dalam bidang pertanian.
Petani sebenarnya memiliki semacam keunggulan komparatif, bagaimanapun usaha dibidang pertanian berisiko tinggi, tak lain karena ketergantungan yang tinggi terhadap kondisi lingkungan. Hal-hal seperti banjir, kemarau, serangan hama dan penyakit bisa datang kapan saja, tanpa permisi, tiba-tiba mengganas dan bisa menyebabkan area tanaman menjadi “puso”.
Petani telah memiliki kepiawaian tersendiri dalam menghadapi krisis alam tersebut. Keberanian mengambil risiko akibat keputusan yang diambilnya sudah menjadi karakter petani. Seorang petani menanam padi, tentu saja dalam benaknya terpikirkan, bagaimana kalau secara tiba-tiba muncul serangan tikus atau wereng. Namun risiko itu diambilnya juga, tentu saja dengan bekal upaya proteksi terhadap tanamannya.
Tak heran jika petani di beberapa daerah begitu getolnya menyemprotkan pestisida, hingga melampaui dosis yang ditentukan. Hal itu untuk mengurangi risiko serangan hama, namun sayangnya tidak memperhatikan aspek lingkungan dan dampak dari kontaminasi atau keracunan oleh pestisida.
Petani adalah pengusaha, terlepas dari kelas gurem, menengah atau kakap. Prinsip-prinsip bisnis sebenarnya sudah ditekuninya. Orientasi pada tingkat keuntungan, atau paling tidak kembalinya modal memang sudah dipegangnya.
Persoalannya kesederhanaan dalam menerapkan prinsip bisnis umumnya menyebabkan nilai tambah yang diperolehnya sangat minim. Petani menjadi mangsa tengkulak atau pengijon, hal itu bukan merupakan cerita langka lagi.
Petani berbisnis dengan pola pikirnya yang sederhana dan statis yang terkadang tidak sejalan dengan perkembangan jaman. Hal-hal seperti jam kerja tak sempat terpikirkan oleh sebagian besar petani, bahkan banyak di antaranya yang berangkat dinihari dan pulang senja hari, “berkantor’ di beberapa petak sawah atau ladangnya.
Pertanian adalah jenis usaha yang berisiko tinggi, maka tak heran jika tidak banyak bank yang berani mengucurkan kreditnya. Begitu pula dengan perusahaan asuransi, hingga saat ini belum ada asuransi kerusakan tanaman akibat banjir, kekeringan atau serangan hama.
Baru dalam beberapa dekade terakhir inilah banyak pengusaha yang berani terjun di sektor pertaian. Usaha ini berorientasi bisnis atau agribisnis saat ini sedang trend, hingga sebagian konglomerat menekuni-nya. Puluhan ribu hektar hutan konversi menjelma jadi hamparan tanaman karet, kakao dan kelapa sawit, yang seringkali merusak ekosistem dan budaya masyarakat sekitar hutan.
Namun hal itu memberikan imbas terhadap perkembanga kapasitas Sumberdaya Manusia (SDM)  di sekitarnya. Wawasan petani karet di Jambi bertambah luas, tatkala tak jauh dari lahannya dibuka perkebunan karet milik PT. Anu dari Entah Berantah Group.
Perkebunan-perkebunan milik para konglomerat menggunakan jasa para profesional, sarjana-sarjana pertanian terpilih lulusan perguruan tinggi terkemuka. Dalam hal ini snagat layak ditumbuh-kembangkan pola kemitraan antara perusahaan swasta besar dengan petani di sekitarnya.
Model yang cukup popelar misalnya PIR-Perkebunan, di mana perusahaan swasta bertindak sebagai inti dan petani sebagai plasma. Dalam pola kerjasama yang demikian acuan memang pada orientasi bisnis dengan keuntungan yang optimal.
Kondisi petani dengan kapasitas SDM-nya perlu memperoleh perhatian khusus, dengan kata lain selain orientasi bisnis sebenarnya di dalamnya perlu terselip orientasi sosial. Dengan sendirinya Coorporate Social Responsibility (CSR) bisa diterapkan.
Para pengusaha atau pemilik perkebunan dan para profesional di lapangan, hendaknya memiliki empati atau kepekaan terhadap situasi dan kondisi sekitarnya.
Idealnya bisa bertindak selaku dinamisator bagi peningkatan kualitas SDM petani, tak lain agar usaha tani yang dilakukannya bisa berkembang baik, hingga masalah kesejangan sosial pun bisa teratasi.
Kapasitas SDM petani perlu mendapat perhatian yang serius, terutama upaya pengembangnnya yang harus dilakukan secara terpadu dan menyeluruh. Dalam sub sektor perkebunan umpamanya, produk petani selama ini kualitasnya cenderung di bawah standar yang ditetapkan. Hal itu tak lain karena aspek teknis yang belum benar-benar dikuasai.
Menghadapi era perdagangan bebas Asean-China (ACFTA) dimana komoditi pertanian harus bersaing secara ketat, semestinya skill petani terus dikembangkan. Kapasitas SDM petani harus benar-benar diperbaiki, diperlukan pola dan sistem pendidikan, pelatihan dan penyuluhan yang komprehenship, bukan lagi sekedar pendekatan proyek atau program asal jalan. (Atep Afia)

5 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. @C16-BAHRUDIN, Tugas TC05
    SDM para petani memang minim namun bila adanya pendekatan yang lebih dari pemerintah seperti training atau yang lainnya pasti petani di indonesia ini akan sedikitnya memahami akan keadaan lingkungan bila memkai pestisida dengan berlebihan. Bila petani di hubungkan dengan pengusaha swasta memang iya karena para petani di daerah yang di kuasai PT swasta mungkin kurang mendapatkan perhatian

    ReplyDelete
  3. @C17-WASTIONO, Tugas TC05
    Menurut saya bahwa seorang petani hendaknya berorientasi pada pasar dan menjadikan pertaniannya sebagai lahan pabrik (agriindustri ) yang di miliki. Memang pola pikir merupakan kualifikasi dari tingkat pendidikan menjadikan modal utama yang menjadikan pola pikir berkembang tidak hanya sebagai petani gurem . dalam faktanya sekarang banyak perusahan perusahan swasta nasional yang juga menanamkan modalnya untuk usaha agribisnis ini . namun para konglomerat ini menggunakan para sarjana sarjana pertanian pilihan dari perguruan tinggi yang berkualitas untuk pengoprasian agribisnisnya dan hasil yang di dapat tidak kalah dengan industri manufactur . sebagai contoh tersebut telah menjelaskan bahwa tingkat pendidikan sangat perpengaruh. Melalui sosialisasi yang di terapkan pemerintah merupakan wujud nyata bahwa perkembangan SDM pertanian sangat di butuhkan untuk petani indonesia menjadi real petani agribisnis. Trimakasih.

    ReplyDelete
  4. @B14-Haelis, Tugas TB05
    menang benar perlu adanya pembenahan tentang SDM dalam sektor pertanian. tetapi sebaiknya artikel menuliskan juga bagaimana memperbaiki pola pikir dan tindakan yanng dilakukan petani sendiri agar dapat berkembang menjadi SDM yang baik. bagaimana penyuluhan yang benar untuk para petani, apa saja yang harus petani pelajari agar dapat meningkatkan produksinya tetapi tetap efisien dan efektifitas.dan bagaimana peran pemerintah dalam hal ini.
    Terimakasih

    ReplyDelete
  5. @E14-Imam, @Tugas B05
    Di era perdangan bebas ini dimana semua produk saling berinovasi dan menghasilkan berbagai macam produk terbaik. khusus di bidang pertanian bagaimana menghasilkan suatu pangan dengan kualitas terbaik harus didasari pengetahuan tentang pertanian yang baik pula dari mulai cara menanam yg baik, pupuk yang baik, dll nya. Apa yang dilakukan pemerintah dan perindo yang saya liat di tv merupakan suatu langkah yang baik bagaimana mereka memberi alat pertanian modern kepada petani dan memberikan bimbingan agar petani kita memiliki soft skill yang baik tidak hanya itu itu saja

    ReplyDelete