4/23/2013

Daya Saing Produk Dalam Negeri

Oleh : Atep Afia Hidayat - Belakangan ini persoalan mutu dan produktivitas banyak disoroti, terlebih dengan munculnya globalisais ekonomi yang menuntut daya saing yang tinggi dari aneka produk. Mau tidak mau sektor bisnis dalam negeri pun harus berpartisipasi dalam globalisasi. Memang tak ada apilihan lain, globalisasi seolah “melarutkan” berbagai hal, menyatukan beragam sistem bisnis setiap negara.

Sebagaimana gambaran, di Indonesia dewasa ini telah hadir ratusan perusahaan multinasional, terutama yang memiliki induk di Jepang, Korea Selatam, Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. Kemampuan perusahaan Jepang dalam melakukan partnership ternyata mampu menembus rimba bisnis Amerika Serikat, Eropa Barat dan lebih dari seratus negara lainnya. Langkah dan strategi Jepang dalam bermitra-usaha dengan luar negeri, lantas diikuti oleh  Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, Singapura. Model yang dikembangkan oleh Jepang ternyata membawa hasil yang memuaskan, terutama menyangkut peningkatan mutu produk, hingga daya saing di pasar global meningkat.

Industri dalam negeri tak dapat dikembangkan secara konvensional dan tertutup. Globalisasi ekonomi menuntut modernisasi dan keterbukaan, maka hal seperi “aliansi” tak bias dihindarkan lagi. Selain itu ternyata mitra usaha asing merupakan kunci keberhasilan dalam menembus pasar global.

Melalui relokasi industri tentu saja bisa banyak belajar, bagaimana perusahaan-perusahaan asing itu meningkatkan produktivitas dan efisiensinya, hingga produknya mampu bersaing di pasar global. Begitu pula cara-cara peruahaan asing bermitra usaha dengan perusahaan lokal patut ditiru. Aliansi perusahaan akan memberikan beberapa keuntungan, antara lain memudahkan penetrasi pasar baru; pengembangan bisnis baru; menekan biaya riset dan pengembangan; memperkuat daya saing; serta meningkatkan produktivitas dan efisiensi.

Sektor bisnis dalam negeri selalu dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Faktor internal umpamanya adanya kebijaksanaan uang ketat (tight money policy), antara lain dimaksudkan untuk menekan angka inflasi, namun berdampak kurang menguntungkan bagi sektor bisnis, terutama kredit menjadi seret dengan suku bunganya yang tinggi.

Untuk memperoleh kredit menjadi tidak mudah karena makin menumpuknya kredit macet. Hal itu memang cukup logis mengingat banyak perusahaan yang tak mampu melunasi kredit. Banyak juga perusahaan yang cukup likuid, namun ternyata enggan mencicil utangnya, malah lantas dibebankan sebagai utang baru.

Itulah dampak kebijaksanaan uang ketat yang menyebabkan uang menjadi langka dan mahal. Pengaruhnya amat nyata, antara lain terhadap peningkatan harga produk. Produk menjadi realtif mahal hingga daya saingnya pun dikhawatirkan melorot. Daya saing produk diperlemah oleh ongkos produksi yang semakin meningkat, antara lain sebagai dampak kenaikan tarif listrik dan harga BBM. Padahal di sisi lainya ekspor nonmigas perlu ditingkatkan, antara lain untuk menghindari defisit neraca perdagangan.

Karena kesulitan likuiditas kalangan bisnis banyak yang tertekan. Kalau beberapa waktu yang lalu masih mengandalkan off shore loan (pinjaman luar negeri), maka kini jangan berharap terlalu banyak, yakni karena adanya kebijaksanaan pemerintah dalam membatasi jumlah pinjaman komersial luar negeri.

Kebijaksanaan yang ditempuh tersebut, tak lain untuk mengurangi beban transaksi berjalan yang semakain berat. Bank Indonesia (BI) memperkirakan defisit neraca transakasi berjalan sudah akan terjadi pada kuartal tiga dan empat tahun 2011. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Budi Mulya, neraca transaksi berjalan BI akan memasuki era defisit. Dengan demikian nilai impor akan melampaui ekspor dan menyebabkan currenct account defisit.

Sudah jelas bisnis dalam negeri menjadi sulit untuk menggunakan pinjaman  komersial luar negeri. Maka ketergantungan terhadap kredit perbankan dalam negeri serta sumber modal dalam negeri lainnya pun makin meningkat.

Sektor bisnis di Indonesia dihadapkan pada pasar global yang menuntut setumpuk kriteria. Faktor eksternal tersebut harus diantisipasi sedini mungkin. Pasar global begitu selektif, hingga hanya produk yang memiliki kualifikasi tertentu yang bisa masuk. Mutu barang yang substandard, kurang terjaga dan kurang konsisten, menjadi kendala besar dalam perekonomian Indonesia.

Untuk Konsumsi dalam negeri, jutaan konsumen dirugikan. Sedang di luar negeri, selain jadi sulit bersaing juga menghasilkan banyak klaim dan pudarnya kepercayaan terhadap mutu produksi Indonesia. Itulah kenyataannya, produk Indonesia sering ditolak di luar negeri, antara lain karena mutunya yang substandard, tidak memenuhi persyaratan. 

Lengkaplah “tekanan” yang dihadapi aneka produk Indonesia, yakni selain harganya yang relatif mahal, juga mutunya yang sebagian di bawah standar, hingga daya saingnya pun rendah. Umpamanya untuk komodititas udang, seringkali ditolak importir Amerika Serikat, antara lain karena pengusahanya yang belum menerapkan cara produksi yang baik (good manufacturing practice).

Banyak produk Indonesia yang memiliki daya saing tinggi di pasar global, umpamanya tekstil, garmen dan kayu olahan. Daya saing aneka produk Indonesia perlu ditingkatkan, baik melalui kebijaksanaan makro yang ditempuh oleh pemerintah, maupun melalui kebijaksanaan intern perusahaan.

Kebijaksanaan makro yang biasa ditempuh oleh pemerintah untuk mengkatrol daya saing komoditi ekspor, antara lain melalui mengendalian laju inflasi. Sudah jelas inflasi yang tinggi mendorong kenaikan harga jual produk, yang akhirnya bisa melemahkan daya saing produk di pasar global.

 Pengendalian laju inflasi antara lain melalui penerapan kebijaksanaan uang ketat (yang seringkali menjadi dilema); reformasi perpajakan; dan pengurangan subsidi. Langkah lainnya yang bisa ditempuh pemerintah ialah depresiasi nilai rupiah, sehingga harga jual produk relatif lebih murah. Namun ada dampak yang kurang menguntungkan dari kebijaksanaan tersebut, yakni harga barang impor menjadi lebih mahal. Sedangkan sebagian dari barang impor tersebut justru merupakan barang modal, yang kelak bisa menghasilkan produk untuk ekspor.

Globalisasi ekonomi menuntut adanya peningkatan daya saing produk Indonesia, untuk itu perlu ada keterpaduan antara kebijaksanaan fiskal dan moneter dengan kemauan yang keras dari pihak perusahaan atau sektor bisnis, terutama menyangkut peningkatan produtivitas dan efisiensi; mengadopsi teknologi maju sekaligus mengembangkan inovasi produksi. (Atep Afia)

15 comments:

  1. Dengan adanya sistem pasar global, maka persaingan barang akan semakin tinggi, oleh sebab itu warga Indonesia harus lebih kreatif dalam menciptakan barang jadi dan yang tidak kalah penting juga peran serta dari masyarakat agar lebih memilih barang lokal yang kualitasnya tidak kalah dari produk luar negeri.

    ReplyDelete
  2. Persaingan dunia perdagangan memang semakin tinggi dengan adanya sistem perdagangan global. Di Indonesia dampak ini sangat terasa apalagi masyarakat Indonesia sebagai masyarakat konsumen dengan selalu melihat trend dan lebih suka buatan luar negeri dibandingkan dengan buatan dalam negeri.Oleh sebab itu maka perlu kesadaran yang tinggi dari masyarakat Indonesia agar lebih memilih produk dalam negeri dibandingkan dengan buatan luar negeri.

    ReplyDelete
  3. Adanya sistem pasar global memang berdampak sekali bagi masyarakat Indonesia, karena dengan banyaknya barang-barang dengan brand yang terkenal menjadikan masyarakat lebih suka produk dari luar negeri. Padahal produk buatan dalam negeri kualitasnya tidak kalah bagus, seperti sepatu, tas, sandal dsb.
    Maka dari itu pemasaran produk dalam negeri harus diutamakan daripada pemasaran produk luar negeri.

    ReplyDelete
  4. kalo kita bicara masalah produk ,indonesia adalah sarana market yang cocok untuk jual beli barang pasti akan laris manis ,kalo masalah produk dalam negri yang kini bisa dibilang kalah dalam market penjualan luar negri itu dikernakan ,mungkin kuragnya daya tarik atau bisa dibilang kurang sekali kita dikenalkan terhadap hasil pruduk dalam negri .
    thanks

    ReplyDelete
  5. Kelemahan kita sebagai negara adalah terlalu banyak mengekspor bahan mentah yang harganya relatif lebih murah, coba saja jika negara ini lebih banyak mengekspor barang setengah jadi atau bahkan barang jadi maka akan lain ceritanya. Inovasi, itulah yang dibutuhkan di era sekarang untuk dapat bersaing terjun ke pasar bebas."

    ReplyDelete
  6. Perkembangan dunia yang menjadikan negara lain bebas menjual produknya ke indonesia membuat produk dalam negri tersingkirkan . Dengan rasa nasionalisme yang telah pudar di kalangan pemuda pemuda sekarang membuat brand brand luar negri yang terkenal saja yang mereka suka , padahal kualits barang dalam negri tidak kalah .

    ReplyDelete
  7. Menyikapi era globalisasi ekonomi saat ini memang dibutuhkan trik-trik khusus agar tidak dipandang sebelah mata oleh dunia. Memang bisa dikatakan bahwa produk-produk buatan dalam negeri standard kualitasnya kurang tinggi bila dibandingkan dengan produk-produk luar negeri. Apalagi masyarakat modern saat ini sudah semakin pintar bila menyangkut masalah kualitas. Bila para produsen dalam negeri dapat meningkatkan kulitas produknya menjadi semakin tinggi serta dapat menjaga kekonsistenannya maka tidak mustahil produk Indonesia dapat bersaing dengan produk-produk luar negeri, atau bahkan dapat merajai pasar dunia.

    ReplyDelete
  8. Menurut saya pemerintah harus membantu wirausahawan-wirausahawan di Indonesia agar mampu meningkatkan kualitas produknya dan mampu berinovasi agar bisa bersaing di pasar global. Disamping itu peran masyarakat juga harus diarahkan untuk mau mengkonsumsi produk dalam negeri. Kita jangan mudah terpengaruh oleh iklan yang memamerkan brand-brand ternama produk luar negeri. Dan jangan pedulikan gengsi. Karena produk-produk dalam negeri juga banyak yang mempunyai kualitas bagus bahkan lebih bagus dari pada buatan luar negeri.

    ReplyDelete
  9. Melihat perkembangan pasar global saat ini, bisa dibilang sangat sulit jika Indonesia bisa masuk di dalamnya. banyak yang menilai kualitas barang yang dijual dari Indonesia di bawah standar. Tapi semua ini bisa saja kita tepis, jika pemerintah mau dan ikut andil di dalamnya. Perlu dukungan dan partisipasi dari pemerintah agar barang - barang buatan dalam negeri bisa merambah ke pasar internasional. Bagi kita masyarakat pun juga jangan pantang menyerah untuk terus mengembangkan bisnisnya agar bisa diterima di pasar global.

    ReplyDelete
  10. Pada era pasar global ini, banyak negara yang berlomba-lomba untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Sebagai Negara berkembang, Indonesia pun turut serta dalam upaya meningkatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Pertumbuhan ekonomi ini diwarnai dengan perubahan lingkungan yang cepat dan perkembangan tekonologi informasi yang pesat
    Perkembangan ekonomi Indonesia dewasa ini menunjukkan semakin terintegrasi dengan perekonomian dunia. Hal ini merupakan konsekuensi dari dianutnya sistem perekonomian terbuka yang dalam aktivitasnya selalu berhubungan dan tidak lepas dari fenomena hubungan internasional. Adanya keterbukaan perekonomian ini memiliki dampak pada perkembangan neraca pembayaran suatu negara yang meliputi arus perdagangan dan lalu lintas modal terhadap luar negeri suatu negara. Saat perdagangan bebas diberlakukan, perdagangan luar negeri Indonesia justru memperlihatkan data yang mengkhawatirkan. Nilai ekspor Indonesia sepanjang 2009 merosot cukup tajam, yakni sampai 14,98 persen dibanding 2008 (BPS/Data Republika, 2010).

    ReplyDelete
  11. negara kita ini kaya akan barang mentah yang dibutuhkan oleh negara-negara lain untuk dijadikan sebuah produk jadi. tetapi kenapa malah kita hanya jadi pengekspor bukan malah jadi pencetus produk jadi dengan kualitas tinggi. itupun diekspor dengan harga yang murah, sedangkan kalau barang import sangat tinggi dan akhirnya tidak terjangkau oleh masyarakat. semoga pemerintah dapat lebih bijak menghargai kekayaan alam bangsa ini, menghargai anak bangsa yang berbakat dibidangnya dengan memberikan apresiasi yang pantas. sehingga mereka tidak lari ke negeri lain yang dapat memberikan apresiasi yang sangat pantas dan laak untuk mereka terima. sehingga produk-produk yang nantinya kita hasilkan dapat lebih berkualtas tinggi, kreatif dan bermutu tinggi...

    ReplyDelete
  12. Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber dayanya, berbagai sumber daya dapat kita temukan di negara maritim ini, akan tetapi banyak sekali, mungkin lebih dari 50% kebutuhan pangan kita di supply dari negara lain seperti beras, kedelai, jagung bahkan sampai dengan makanan cepat saji. Lalu, kenapa para warga indonesia lebih memilih produk luar daripada produk negara sendiri? Hal ini di karenakan bebasnya perdagangan antar negara, sehingga dengan mudag mereka mendapatkan produk-produk luar dengan mudah, dan harganya yang dapat bersaing dengan harga dalam negeri serta kualitas dari produk itu sendiri. Lalu dapatkah kita menghentikan pembelian produk-produk luar?Bisa sekali asalkan ada seseorang yang dapat mengembangkan dan berusaha untuk meningkatkan kualitas produk dan dapat menghargai para pengusaha dalam negeri. Kita nantikan besok pada pemilihan capres dan cawapres..

    ReplyDelete
  13. Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam bersaing di pasar global. Kenapa tidak? Indonesia memiliki kekayaan SDA yang melimpah ruah, Indonesia memiliki 242 juta jiwa penduduk (World Bank, 2011) yang merupakan jumlah yang sangat fantastis untuk menjadi pasar yang menjanjikan bagi siapapun bangsa di dunia ini. Lalu mengapa sampai sekarang masih sedikit produk-produk yang dapat bersaing di pasar global? Salah satunya adalah bahwa Indonesia hanya memiliki sedikit SDM-SDM yang berkualitas. Tugas kita untuk sadar bahwa dengan membangun manusia-manusia unggul, kita bisa memajukan bangsa,salah satunya bersaing dalam pasar globalisasi. Dengan SDA yang melimpah ruah di Indonesia dan dikelola oleh anak-anak bangsa yang berkualitas, saya yakin Indonesia bisa menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia, aamiin.

    ReplyDelete
  14. Muhammad Haris5/24/2014 9:31 PM

    Dalam hal produk yang dihasilkan oleh Indonesia sebenarnya tidak begitu berbeda kualitasnya dengan produk luar negri atau impor. Tetapi dalam beberapa produk memang cukup terlihat perbedaannya. Menurut pengalaman yang saya punyai yaitu ketika saya mengenakan produk sepatu impor dan sepatu lokal. Memang secara kualitas bahan sepatu impor lebih bagus dan berkualitas dibandingkan dengan sepatu lokal. Dari segi daya tahan biasanya sepatu impor juga lebih baik. Hal tersebut mungkin terjadi karena standar dari kualitas produk dalam negri belum sepenuhnya merata, meskipun ada beberapa produk lokal yang juga sudah memiliki nama dan kualitas yang baik.

    ReplyDelete
  15. dengan adanya persaingan dunia perdagangan global, produktifitas masyarakat indonesia tentunya harus semakin kreatif agar bisa bersaing dalam persaingan global ini. Untuk medukung itu semua juga membutuhkan SDM yang mumpuni agak produk kreatif masyarakat dapat bersaing.

    Jiki Prayuda
    44310110053

    ReplyDelete