.

Jun 6, 2013

Kupas Lirik : Sepohon Kayu



Sepohon Kayu

Sepohon kayu, daunnya rimbun
Lebat bunganya serta buahnya
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya

Kami bekerja sehari-hari
Untuk belanja rumah sendiri
Walaupun hidup seribu tahun
Kalau tak sembahyang apa gunanya

Kami sembahyang fardu sembahyang
Sunatpun ada bukan sembarang
Supaya Allah menjadi sayang
Kami bekerja hatilah riang

Kami sembahyang limalah waktu
Siang dan malam sudahlah tentu
Hidup dikubur yatim piatu
Tinggalah seorang dipukul dipalu

Dipukul dipalu sehari-hari
Barulah dia sedarkan diri
Hidup didunia tiada berarti
Akhirat disana sangatlah rugi

Adapun kupas lirik tersebut adalah : 


Ya, kehidupan harus diisi dengan tindakan atau perbuatan. Jika hidup maka harus berbuat sesuatu, apapun itu. Namun setiap perbuatan ada derajatnya masing-masing, ada derajat yang paling tinggi, tinggi, rendah atau sangat rendah. Dalam hal ini sembahyang atau shalat tak lain merupakan perbuatan dengan derajat paling tinggi. Ya, walaupun hidup seribu tahun jika tidak shalat apa gunanya.

Mengisi hidup ada yang bekerja, berusaha, belajar, atau hanya diam saja. Apapun yang dilakukan namun utamakanlah shalat. Sebab derajat shalat di atas semua perbuatan. Siapapun yang sudah menyatakan dirinya sebagai muslim terkena kewajiban shalat, baik ketika sedang sehat, sakit, bahkan orang meninggal pun dishalatkan.

Ada shalat wajib ada yang sunat, dengan melakukan semuanya maka Allah menjadi sayang. Ya, shalat adalah perbuatan menuju Allah, sarana untuk berdiskusi bahkan curhat dengan Allah. Ya, walaupun hidup seribu tahun kalau tak sembahyang apa gunanya.

Perjalanan manusia tidak sebatas di dunia saja, namun nanti secara berurutan akan masuk ke alam kubur, setelah mengalami suatu proses yang namanya kematian. Ternyata di alam kubur akan “dihidupkan” kembali,  sebagai yatim piatu, bahkan tanpa siapapun, hanya seorang diri. Dalam hal ini yang menjadi bekal hanyalah segala amal  perbuatan yang baik, termasuk shalat. Jika totalitas perbuatan selama di dunia terkatagori buruk, maka siap-siap menerima siksa kubur, seperti “dipukul” dan “dipalu”.

Jika hidup di dunia tiada berarti, dengan kata lain hanya melakukan perbuatan-perbuatan yang bernilai rendah, sangat rendah atau hina, maka diakhirat akan sangat merugi. Padahal alam akherat sebagai kelanjutan dari alam dunia dan alam kubur adalah kekal abadi, berkelanjutan, tiada berakhir. (Atep Afia)

5 comments:

  1. Hidup didunia ibarat seorang musafir, selalu gunakan waktu untuk beribadah. Tentu beribadah dengan Ilmu

    Mencari ilmu adalah wajib, agar ibadah kita benar-benar diterima

    ReplyDelete
  2. fera fitria
    @A22

    mau hidup kita selama apapun di dunia, jika kita tidak menjalankan shalat 5 waktu maka, hidup kita di dunia akan terasa siasia. sedangkan kehidupan kita yang abadi adalah di akhirat, sebagai umat muslim shalat 5 waktu adalah kewajiban.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. A04-YULIANI TUGAS-A05

    Dari lirik sepohon kayu iini, kita diingatkan bahwa hidup ini hanyalah sesaat dan dihabisnkan waktunya dengan sembahyang, salain itu kita juuga diingatkan dengan akhirat.

    ReplyDelete
  5. D19-Kenny, Tugas A05

    Artikel ini mengingatkan bahwa hidup manusia tidak sebatas hanya di dunia saja, namun hingga ke alam kubur. dan juga mengingatkan mengisi hidup bukan hanya untuk bekerja, berusaha, belajar, atau hanya diam saja. Apapun yang dilakukan harus mengutamakan shalat.

    ReplyDelete