4/23/2013

Wajah Asli Pertanian Indonesia

Oleh : Atep Afia Hidayat Pertanian tempo doeloe adalah pertanian tradisional yang bersifat boros lahan, energi dan sumberdaya manusia (SDM). Bagaimana tidak, usaha tani yang dilakukan hanya menghasilkan tingkat produksi yang rendah dengan kualitas panen yang kurang baik, serta nilai tambah yang diperoleh sangat minim.


Sebagai dampaknya ialah orang yang mengusahakan atau sang pengusaha tetap miskin dari generasi ke generasi, bahkan yang terjadi proses pemiskinan masal. Tak dapat dipungkiri, bahwa sebagian besar penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, yang dalam tahun 2010 masih sekitar 31 juta jiwa, merupakan masyarakat pertanian, sang pengusaha peranian kelas gurem beserta keluarganya.
Pertanian adalah satu satu sektor pembangunan, salah satu mata pencaharian yang ternyata masih ditekuni oleh mayoritas penduduk. Lantas, kenapa di abad teknologi informasi, abad nuklir, abad bioteknologi atau abad industri canggih ini masih banyak yang terjun di sektor tradisional.
Apakah karena tidak punya pilihan lain atau tidak mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman ? Memang benar, perkembangan Iptek makin merambah semua segi kehidupan, bahkan memasuki sektor pertanian. Di beberapa negara seperti Jepang, Belanda, Amerika Serikat, Jerman atau Taiwan telah berhasil dikembangkan pertanian modern yang menerapkan prinsip-prinsip industri dan perhitungan-perhitungan bisnis.
Lantas, apakah pola industri pertanian itu bisa diterapkan oleh seluruh petani yang ada di dunia, termasuk oleh petani gurem yang merupakan mayoritas, baik di Indonesia, India, Bangladesh, Amerika Latin atau Afrika.
Pertanian tradisional di beberapa negara telah mengalami metamorfosa menjadi pertanian yang modern yang menerapkan prinsip industri, bisnis dan manajemen. Lalu apakah seorang Mang Udin, petani dengan pemilikan sawah sepertiga hektar di Karawang, mampu menjadi seorang petani canggih seperti Mr. Carnegie di Negara Bagian Missouri, Amerika Serikat, yang mengusahakan puluhan hektar gandum dan sweet corn.
Di negara industri maju seperti Amerika Serikat, Jepang dan Jerman masih banyak penduduk yang menggeluti sektor pertanian. Namun kondisinya amat berlainan dengan mayoritas petani yang ada di Indonesia atau negara sedang berkembang lainnya.
Petani di negara maju umumnya telah benar-benar menerapkan prinsip industri, bisnis dan manajemen. Karena untuk itu memang sangat memungkinkan. Hal-hal seperti lahan garapan yang luas, mekanisme yang diterapkan secara penuh, penggunaan varietas tanaman unggul, sarana produksi yang lengkap, dan infrastruktur yang memadai merupakan faktor-faktor pendukung yang bisa memperbaiki performance usaha taninya.
Mayoritas petani di Indonesia dari generasi ke generasi hanya menanam padi, dengan pola usaha tani yang kurang mengacu pada orientasi bisnis. Tatkala seorang petani di Tangerang dimintai komentarnya mengenai usaha taninya yang cenderung terus-menerus menanam padi, muncul jawaban bahwa dengan menanam padi seolah menjadi tenang.
Dalihnya kalaupun harganya terpuruk, toh masih tetap bisa makan. Selain itu menanam padi merupakan bidang yang paling dikuasaianya. Untuk menanam komoditi lainnya cukup riskan, karena belum “dijiwai”. Menanam padi memang telah dilakukan secara turun-menurun, entah sudah memasuki generasi ke berapa.
Meskipun ada introduksi teknologi yang lebih maju, namun nilai tambah yang diperoleh belum begitu merangsang. Kehidupan petani begitu-begitu saja, bahkan ada kecenderungan terjadi involusi pertanian, yaitu sebagai akibat luas pemilikan lahan yang makin sempit, baik karena dijual atau dialihkan pada keturunannya.
Itulah kondisi mayoritas petani dan pertanian di Indonesia. Itulah wajah asli pertanian Indonesia, masih dibutuhkan namun cenderung dipinggirkan. Maka tak heran jika pembangunan pertanian terkesan jalan di tempat. (Atep Afia)

1 comment:

  1. Artikel yang menarik...mengajak kita sejenak untuk merenung dan melihat akan kondisi pertanian di negeri kita ini.

    Ya, sungguh sangat jauh pertaninian negeri kita bila dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Jepang, Belanda, Amerika Serikat, Jerman atau Taiwan yang telah berhasil dikembangkan pertanian modern yang menerapkan prinsip-prinsip industri dan perhitungan-perhitungan bisnis. Kemajuan teknologi masih belum bisa menjangkau dan mendongkrak pertanian kita ditambah kultur sistem partanian kita yang dari tahun ke tahun masih begitu saja, di mana para petani masih berorientasi pada penanaman tamanan pokok seperti padi, jagung, kedelai..dengan cara-cara tradisional yang pada akhirnya baik dari segi produktivitas maupun packaging masih jauh dari harapan. Para petani masih bergerak pada sektor primer semata, hanya menanam dan menanam dari hasil bumi saja. Padahal kalau kita bisa olah dengan pendekatan sistem industri, tentu akan memberikan nilai tambah. Ini, menjadi PR bagi pemerintah, bagaimana menjadikan pertanian kita bisa maju seperti negara-negara lain yang telah mendekatkan sistem pertanian industri.

    ReplyDelete