.

Apr 23, 2013

Pengembangan Teknologi Pertanian

Oleh : Atep Afia Hidayat - Memasyarakatkan teknologi pertanian berarti mengupayakan pengembangan dan penerapan teknologi baru dibidang pertanian khususnya dengan sasaran masyarakat tani. Namun memasyarakatkan teknologi pertanian juga berarti menggalakan penemuan atau inovasi bidang teknologi pertanian dikalangan sivitas akademika pertanian, atau masyarakat kampus pertanian.


Di Indonesia tersebar puluhan perguruan tinggi negeri dan swasta (PTN/PTS) yang memiliki Fakultas Pertanian dengan berbagai jurusan dan program studi, mulai dari Agronomi, Ilmu tanah, Proteksi tanaman, Agribisnis, Teknologi Pertanian, dan sebagainya. Selain itu ada juga Fakultas peternakan dan fakultas Perikanan yang juga dengan berbagai jurusan atau program studinya.
Dibeberapa PTN tersedia juga program pasca sarjana ilmu-ilmu pertanian. Tak dapat dipungkiri bahwa bidang pertanian lebih banyak menghasilkan doktor (S-3) jika disbanding bidang lainnya. Hal itu menunjukkan bahwa bidang pertanian selangkah lebih maju, sudah selayaknya temuan para pakar pertanian tersebut bisa langsung diaplikasikan untuk masyarakat tani dan usaha taninya.
Transfer teknologi pertanian dari masyarakat kampus ke masyarakat tani hendaknya berlangsung secara lancar. Untuk itu diperlukan berbagai media atau transformator, antara lain melalui pengembangan budaya dialog antara masyarakat kampus dan masyarakat tani.
Perguruan tinggi melalui Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat (LPPM) hendaknya meningkatkan kiprahnya terhadap upaya peningkatan kemampuan petani dalam mengadopsi teknologi. Selain itu perguruan tinggi melalui dukungan kementerian terkait (misalnya Kementerian Informasi dan Komunikasi) hendaknya berusaha untuk mempublikasikan hasil penelitian dalam bentuk yang mudah dicerna oleh petani.
Tidak usah membuat majalah yang lux dan eklusif, yang penting berbagai informasi bisa sampai ke tangan petani, misalnya dalam bentuk brosur atau tabloid yang sederhana. Isinya selain mengenai teknologi tepat guna, penemuan varietas baru, pestisida baru, pupuk baru, juga menyangkut analisa usaha tani serta dampak lingkungan pertanian. Dalam era teknologi informasi antara lain bisa dalam bentuk situs web atau web-blog.
Dalam hal ini masyarakat tani perlu memahami kerusakan lingkungan yang disebabkan karena pengelolaan lahan yang salah, penggunaan pupuk, pestisida yang berlebihan, dan sebagainya.
Sebuah fakultas pertanian paling tidak memiliki wilayah binaan yang meliputi beberapa kecamatan, atau kalau memungkinkan satu kabupaten. Fakultas pertanian Unpad misalnya membina petani di Kabupaten Sumedang atau Bandung; Fakultas Pertanian UGM membina petani di Kabupaten Gunung Kidul atau Bantul; Fakultas Pertanian Unibraw membina petani di Kabupaten Malang, begitu pula untuk PTS. Upaya ke arah itu memang sudah dirintis oleh beberapa perguruan tinggi, namun umumnya menghadapi kendala berupa keterbatasan sumberdaya manusia dan dana. Untuk itu perlu dipikirkan adanya sumberdana yang sifatnya tidak mengikat.
Memasyarakatkan teknologi pertanian memang bukan hanya tugas pemerintah semata, namun menjadi tanggung jawab berbagai pihak, baik itu perguruan tinggi, dunia usaha dan LSM.
Untuk mendukung penelitian, pengembangan dan pengaplikasian teknologi pertanian maka bisa dilakukan kerjasama lintas sektoral, di mana yang memiliki sumberdaya manusia atau pakar (perguruan tinggi) bekerjasama dengan yang memiliki kebijakan (Kementerian Pertanian), plus didukung oleh yang memiliki dana (dunia usaha swasta atau BUMN).
Teknologi pertanian berkembang makin pesat, namun hal itu ternyata kurang diimbangi oleh upaya pengkaderan. Artinya petani senior yang telah menguasai teknologi tidak sempat “mewariskan” kemampuan kepada yuniornya.
Kenapa ? Tak lain karena generasi mudak sektor pertanian cenderung “hijrah” ke sektor lain, terutama industri dan jasa. Perhatian generasi muda terhadap teknologi pertanian makin menciut, hal itu lebih dikondisikan oleh semakin menjamurnya berbagai kursus seperti komputer, bahasa Inggris, akuntasi, perbengkelan di berbagai kota besar dan kecil.
Di Pamanukan, Pagaden, Subang, Indramayu, Jatibarang, Cikampek yang selama ini dikenal sebagai sentra produksi pangan, sudah hadir puluhan lembaga penyelenggara kursus, sasarannya tak lain generasi muda, yang sebagian besar berasal dari keluarga petani.
Dengan demikian anak-anak petani itupun lebih cenderung memilih kursus komputer daripada kursus berternak ayam atau pembibitan tanaman. Dengan kondisi seperti itu bias diduga bahwa pada suatu saat yang berprofesi sebagai petani menjadi langka, karena cenderung menjadi pegawai kantor, karyawan pabrik atau menyelenggarakan pelayanan bidang jasa tertentu.
Untuk menumbuh-kembangkan teknologi pertanian dikalangan masyarakat tani kaderisasi mutlak diperlukan, terutama karena usia petani yang ada bertambah tua.
Menurut F.Rahardi, seorang pengamat pertanian, lemahnya perhatian sumberdaya manusia terhadap teknologi pertanian, sebenarnya sudah dimulai sejak dalam pendidikan, apakah yang diajarkan di fakultas Pertanian ? kebanyakan adalah ilmu-ilmu murni, yang aplikasinya ke sektor pertanian secara konkret amat susah.
Jangankan untuk program S1, dalam program diploma pun, anak-anak kita tidak mungkin dapat mempelajari sesuatu yang spesifik. Misalnya, pelajaran menanam jagung, kedelai atau kacang tanah, bahkan untuk padi yang menjadi makanan pokok kita sehari-hari pun belum punya lembaga pendidikan khusus.
Selanjutnya F. Rahardi memberikan ilustrasi, “Bertanam jagung bagi masyarakat Indonesia adalah lagu ciptaan Ibu Sud. Di situ hanya diperlukan cangkul, benih dan pupuk. Teknologi canggih terlalu luks untuk dikaitkan dengan jagung…..”.
Usaha tani di Indonesia sudah berlangsung sejak ratusan tahun yang lalu. Terutama di Jawa, karena keberhasilan petani dalam meningkatkan produksi, maka secara tidak langsung berpengaruh terhadap kemampuan adaptasi manusia dengan lingkungannya.
Penduduk Pulau Jawa telah 135 juta jiwa (2010), padahal luasnya hanya 134 ribu km persegi. Tak lain karena tersedia bahan pangan yang melimpah. Namun sampai kapan ? Jika laju pertumbuhan penduduk tak bisa dikendalikan, maka yang terjadi ialah defisit bahan pangan. Maka tak heran jika pengembangan produksi pangan  diarahkan ke luar Jawa, seperti Aceh, Sumatera Utara, Lampung, Bali, NTB dan Sulawesi Selatan. Lahan di Jawa kemampuannya makin terbatas, selain itu juga muncul desakan industrialisasi.
Hal serupa terjadi pada kapasitas petani, di mana kemampuannya semakin menurun karena “jam terbangnya” di sawah sudah puluhan tahun. Tentunya petani memiliki obsesi bakal ada yang meneruskan perjuangannya, namun apa mau dikata, generasi muda pertanian “berlompatan” ke seberang sektor pertanian, karena enggan bergumul dengan lumpur dan pupuk, karena malas dijemur matahari seharian.
Saat ini sektor pertanian dibebani target yang lebih besar, padahal kuantitas dan kualitas sumberdaya manusianya cenderung menurun. Untuk itu perlu ada kebijaksanaan khusus menyangkut kaderisasi sektor pertanian, terutama dalam kaitannya dengan penguasaaan teknologi pertanian.
Upaya memasyarakatkan teknologi pertanian bisa melalui penyuluhan, pendidikan dan pelatihan, namun dalam penyelenggaraannya perlu ditunjang oleh informasi yang akurat mengenai prospek yang sebenarnya, terutama menyangkut pasar. Puluhan fakultas pertanian berupaya menyelenggarakan pendidikan pertanian, namun ternyata hanya sebagian lulusannya yang benar-benar terserap di sektor pertanian, sebagian lainnya justru memilih sektor yang tidak berkaitan dengan pertanian. Hal itu menunjukkan belum adanya hubungan dan kesesuaian (link and match) antara sektor pendidikan dengan ketenagakerjaan.
Peranan teknologi pertanian makin penting, karena hanya dengan teknologi bisa dicapai berbagai  target, terutama menyangkut peningkatan produksi. Komoditi perkebunan, pangan, hortikultura, peternakan dan perikanan produksinya ditargetkan makin meningkat, selain untuk memenuhi konsumsi dalam negeri juga untuk mengisi peluang pasar.
Baik di sektor hulu, hilir atau penunjang (sarana produksi) pemanfaatan teknologi pertanian makin meningkat, selain itu tuntutan akan perbaikan kualitas teknologi pun makin tinggi. Dengan demikian sudah selayaknya perhatian terhadap pengembangan teknologi pertanian makin ditingkatkan. (Atep Afia)

8 comments:

  1. Inti dari artikel diatas yaitu kita harus meningkatkan perkembangan teknologi dalam bidang pertanian.Kenapa perlu dikembangkan? jawabannya sudah jelas bahwa bidang pertaian adalah bidang yang paling banyak dilakukan oleh masyarakat menengah kebawah oleh sebab itu agar perekonomian mereka lebih baik dan dalam bidang pertanian Indonesia dapat kembali swasembada padi.

    ReplyDelete
  2. Perhatian pemerintah dalam menunjang pertanian masyarakat memang sangatlah dibutuhkan, seperti yang sudah dijelaskan diatas upaya peningkatan itu tidak perlu mahal ataupun sulit cukup dengan memberikan penyuluhan, fasilitas yang mendukung, dan pendidikan mengenai cara bertani yang baik. Karena tanpa pertanian bahan pokok kebutuhan sehari-hari tidak akan bisa kita nikmati,

    ReplyDelete
  3. zaman saya SD saya selalu melihat sosok presiden Soeharto yang mau turun ke sawah, area pertanian hingga mendapatkan julukan Bapak pertaian Indonesia. beliau begitu memperhatikan para petani dan selalu membantu para petani agar dapat maju di bidang pertanian. jika saja para pemerintah negeri ini baik pusat maupun daerah mau membantu para petani indonesia agar dapat lebih maju dan menghasilkan panen dengan kualitas yang lebih baik lagi. dengan penyuluhan yang diberikan dari penyuluh yang handal, memberikan fasilitas yang dapat mendukung para petani yang mungkin mulai terpuruk agar dapat bangkit lagi. sehingga hasilnya dapat kita nikmati bersama tanpa harus memilih produk import. juga mungkin malah dapat di ekspor dengan harga yang tidak kalah dengan negara lain yang mengimport ke Indonesia...

    ReplyDelete
  4. Indonesia yang orang bilang tanahnya subur bagaikan tanah surga, bahkan ada syair yang mengatakan "tongkat kayu dan batu jadi tanaman" tapi aneh nya setiap saya masuk baik ke tempat perbelanjaan tradisioanal ataupun modern saya lebih sering melihat buah buahan dan sayuran import yang terpajang di setiap etalase etalase toko buah tsb. lalu kemana hasil dari para petani kita ? sudah maksimal kah mereka mengelola tanah pertiwi ini untuk pertanian ?
    menurut saya pemerintah dan perguruan tinggi yang memiliki Fakultas Pertanian serta para petani harus bersinergi untuk memaksimalkan hasil dari pertanian di negara kita ini, dengan harapan kita tidak ketergantungan dengan negara lain mengenai suplly pangan untuk kebutuhan negeri sendiri dan bahkan kita yang seharusnya menjadi exportir untuk negara negara lain dari hasil pertanian yang kita kelola dengan baik.

    ReplyDelete
  5. kaum intelek Indonesia dibidang pertanian semakin banyak. akan tetapi masyarakat umum belum banyak bisa memanfaatkannya. sebagian besar pertanian Indonesia masih tradisional. hal ini dikarenakan kurangnya perhatian pemerintah pad pertanian umu. kurangnya penyuluhan teknologi, juga modal untuk pengembangan teknologi

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. @C16-BAHRUDIN, Tugas TC05,
    INDONESIA ?
    Negara yang subur dan kaya raya dalam segi pertanian apalagi tentang keindahaanya , Namun jaman sekarangan hanya segelintir orang saja yang brani mendalami pertanian karena anak jaman sekarang untuk pergi ke ladang pertanian saja sudah sangat jarang itu desa apalagi yang berada di kota. Bila kurang perhatian dari pemerintah menurut saya pemerintah harus mendukung penuh dalam segi permodalan bukan dengan memberi modal secara langsung saja akan tetapi dalam segi harga jual oleh agen. dari petani ke agen biasanya di hargai murah tetapi dari agen untuk di jual kembali harganya bisa melambung jauh dari petani , dulu saya pernah menjual hasil panen padi dan cengkeh itu harganya di hargai se 1/4 harga asli knapa saya bisa tau itu se1/4 harga asli karena saya langsung googling dan ternyata harga aslinya untuk cengkeh sangat besar perkilonya , semestinya pemerintah mengadakan seperti koperasi khusus untuk menjual hasil panen petani dengan harga asli bila ingin di jual bukan penadah yang ingin mengambil penghasilan instan saja. dan orang tua pun berpikir dan mengatakan kepada anaknya kamu jangan mau jadi seorang petani yang di hargai murah seperti orang tua mu ini

    ReplyDelete
  8. @B-13 Mokh Alfan Novianto, Tugas TB-05
    Untuk mengembangkan teknologi pertanian dapat dilakukan dengan mempelajari ilmu pertanian di dalam sebuah perguruan tinggi sehingga dapat menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dalam bidang pertanian dan selalu berinovasi terhadap sebuah pertanian bukan hanya tau menanam saja melainkan dapat menciptakan hasil penemuan baru dalam bidang pertanian

    ReplyDelete