.

Apr 19, 2013

Menjadi Lebih Bugar

Oleh :  Atep Afia Hidayat - Menjalani kehidupan tanpa kebugaran ? Cape deh ! Begitu melelahkan ! Ya, arena kehidupan harus dijalani dengan bugar full, baik menyangkut kondisi fisik, mental, pikiran, perasaan maupun semangat. Fisik dituntut untuk bugar setiap saat, mulai dari bangun tidur sampai kembali tidur. Bahkan kebugaran dituntut 24 jam non stop.


Nah lho, kalau begitu dalam kondisi tertidur pun kita harus bugar ? Ya iyalah masa ya iya donk, bagaimana bisa tidur nyenyak kalau fisik tidak bugar. Tidur nyenyak merupakan tidur yang berkualitas, terutama untuk menormalisasikan fungsi-fungsi sel, jaringan, organ dan tubuh secara keseluruhan. 

Untuk kebugaran fisik yang prima diperlukan investasi waktu, aktivitas dan biaya. Untuk bugar secara fisik ada ongkosnya lho. Tak heran jika berbagai pusat kebugaran muncul di mana-mana. Lantas, apakah untuk meraih bugar full harus selalu di pusat kebugaran ?

Tentu tidak, untuk bugar secara fisik bisa diupayakan dengan cara-cara sederhana, murah dan meriah. Hal yang terpenting ialah adanya kemauan dan kemampuan untuk bergerak. Ya, modal dasar kebugaran fisik ya bergerak, bisa berupa jalan-jalan, jogging, lari, lompat-lompat, senam atau gerak badan, termasuk olah raga yang menggunakan alat.

Dengan begitu, jadikan rumah dan sekitarnya sebagai pusat kebugaran, begitu pula tempat bekerja seperti kantor, sekolah, pasar, dan sebagainya. Tepat, bahwa pusat kebugaran bisa di mana saja, yang terpenting ada kemauan dan kemampuan untuk mulai bergerak. Siap gerak !

Faktor mental pun harus dipelihara kebugarannya, jangan biarkan mental mengalami drop atau tertekan  barang sejenak pun. Tidak ada gunanya fisik bugar namun mental down. Caranya, selalu memantau aktivitas,  situasi dan kondisi mental, setiap saat introspeksi, jangan pernah lengah. Seringkali melakukan pembiaran terhadap mental sendiri, sehingga tidak terlatih dan tidak terkelola, berkembang apa adanya. Mental bisa mengalami gangguan, mulai dari yang ringan sampai sangat berat. Stres yang dibiarkan dan mengendap lama-kelamaan bisa menjadi depresi yang berat. Kalau sudah begitu, kehidupan akan dijalani dengan tidak produktif, bahkan bisa menjadi beban bagi orang lain.

Mental harus di-per-bugar setiap saat. Caranya ? Ya, selain olah raga yang menyangkut fisik, tentu saja ada olah mental. Selain bina raga juga diperlukan bina mental. Olah dan bina mental setiap saat, mulai dengan berpikir dan berperasaan positif, juga berpikir dan berperasaan besar. Jauhi yang negatif dan kerikil-kerikil tajam yang bakal mengganggu dan melukai mental. Hindari segala sesuatu yang tidak berguna berupa omong kosong, sikap kosong dan tindakan kosong, yang semuanya tidak ada artinya, malah membebani dan membuat repot.

Sebagaimana fisik yang melakukan latihan beban, maka mental pun perlu latihan beban. Sebagaimana tanaman buah-buahan, hanya akan berbuah jika terlebih dahulu mendapatkan cekaman. Tanaman jeruk dalam pot misalnya, hanya akan berbuah jika tidak disirami (dikeringkan) minimal tiga hari. Nah, tanaman akan mengalami stress, namun dalam batas-batas kewajaran, akhirnya akan menumbuhkan bunga dan segera berbuah. Begitu pula mental, secara terprogram perlu mendapat cekaman, tekanan atau beban tertentu, sampai batas kewajaran.

Latihan beban fisik misalnya dengan mengangkat barbell atau lari dengan kecepatan tertentu. Namun fisik ada batas kemampuannya, jangan diforsir dan terlalu dipaksakan. Beberapa contoh akibat terlalu memforsis aktivitas fisik berujung pada kematian sudah banyak diberitakan, misalnya seorang aktor yang juga anggota DPR, menghembuskan nafas terakhir setelah beberapa saat berolah raga sepak bola. Begitu pula baru-baru ini di Makassar diberitakan, seorang atlet karate asal palu mendadak meninggal, setelah bertanding dalam empat sesi dalam satu hari. 

Ya, kecapaian, kelelahan bisa berujung pada kematian. Kemampuan fisik seseorang memang ada batasnya, dengan demikian upaya pembugaran harus mengenal batas-batasnya. Segala sesuatu memang jangan melampaui batas, begitu pula dalam upaya pembugaran kondisi mental.

Begitu pula pikiran, perasaan dan semangat harus selalu bugar. Keseluruhannya memang berkaitan dan bersinergi. Semuanya harus kompak untuk kehidupan yang lebih bermakna dan berkualitas. Persoalannya bagaimana menjaga frekuensi kebugaran, supaya tidak terlalu berfluktuasi. Tentu saja diperlukan program dan metode pelatihan yang berkesinambungan, terus-menerus tak pernah henti.

Dalam hal ini ada metode komprehenship dan terintegrasi untuk mencapai kondisi bugar full, yaitu shalat lima waktu dan dilakukan secara berjamaan di masjid. Selain menayngkut fisik, mental, perasaan, pikiran, semangat, metode ini bisa menyebabkan bugar secara social dan bugar secara spiritual. Sebagai contoh tokoh nasional yang penampilan dan penampakannya selalu bugar ialah mantan Wapres Jusuf Kalla, meskipun usianya telah melampaui 69 tahun. (Atep Afia/KangAtepAfia.com)

No comments:

Post a Comment