.

Apr 28, 2013

Persoalan Disintegrasi Bangsa


Oleh : Atep Afia Hidayat - Konferensi Tingkat Tinggi Asean ke 18, berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) tanggal 7 dan 8 Mei 2011. Saat ini Asean beranggotakan negara-negara Filipina (pendiri), Indonesia (pendiri), Malaysia (pendiri), Singapura (pendiri), Thailand (pendiri), Brunei Darussalam (7 Januari 1984), Vietnam (28 Juli 1995), Laos (23 Juli 1997), Myanmar (23 Juli 1997) dan Kamboja (16 Desember 1998). Sementara Timor Leste akan bergabung secara resmi mulai tahun 2012. Ya, kondisi saat ini di kawasan Asia Tenggara terdapat belasan negara yang berdaulat.

Namun jika kita tengok sejarah masa lampau, sekitar tahun 1293 sampai tahun 1500, diperkirakan sebagian besar wilayah Asean itu merupakan satu negara, yaitu Majapahit. Sedangkan mulai tahun 600-an sampai 1100-an, sebagian besar wilayah Asean masuk Kerajaan Sriwijaya. Dengan demikian di kawasan Asia Tenggara pernah terjadi beberapa kali kasus disintegrasi bangsa dan negara yang besar.

Disintegrasi Negara Sriwijaya dan Majapahit terutama disebabkan oleh adanya invasi bangsa lain. Keruntuhan Sriwijaya misalnya diawali dengan adanya serangan dari Raja Chola dari Koromandel sebelah tenggara Semenanjung India, pada tahun 1025. Sedangkan kehancuran Majapahit terutama disebabkan kehilangan tokoh besar seperti Hayam Wuruk dan Gajah Mada, serta meletusnya Perang Paragreg tahun 1401-1406. Perang tersebut merupakan perang saudara memperebutkan kekuasaan daerah bawahan, sehingga masing-masing mulai melepaskan diri (disintegrasi).

Kalau kita menelaah sejarah Turki, maka sebelumnya dikenal sebagai Kesultanan Utsmaniyah (1299-1923), dikenal sebagai Kekaisaran Turki Ottoman. Selain Turki yang sekrang, wilayahnya juga meliputi 29 Provinsi yang mencangkup Mediterania Timur, Eropa Tenggara, Eropa Tengah sampai Afrika Utara. Pada abad ke 16 dan 17 negara ini menjasi super power terutama karena kekuatan pertahanan maritimnya. Paling tidak ada tiga penyebab berankanannya negara ini, yaitu gerakan separatisme, nasionalisme dan misionaris. Bagaimanapun Kekaisaran Turki Ottoman meliputi beragam suku dan bangsa yang tersebar di benua Asia, Eropa dan Afrika. Sepanjang sejarah yang dikenal mungkin inilah negara terbesar di dunia.

Kasus kehancuran negara besar juga terjadi pada Romawi dan Bizantium, yang sempat Berjaya sebelum Turki Ottoman. Peta dunia memang selalu berubah, selalu ada saja negara yang mengalami disintegrasi, menjadi dua, belasan, bahkan bisa saja puluhan negara. Dulu mungkin tak ada orang yang mengira Uni Soviet yang begitu kuat, bahkan mendapat sebutan Super Power, ternyata berantakan, bubar dan terpilah menjadi 15 negara merdeka dan berdaulat, seperti Armenia, Azerbaijan, Belarus, Estonia, Georgia, Rusia dan sebagainya. Uni Soviet “hidup” antara kurun waktu 1917 sampai 1991.

Di belahan dunia lainnya pun proses disintegrasi negara terjadi, misalnya di Korea, Ceko-slowakia, Yugoslavia, dan sebagainya. Entah di mana lagi kasus disintegrasi bangsa dan Negara itu akan terulang. Yang jelas semua bangsa dan Negara memiliki potensi untuk bercerai-berai, tidak hanya negara besar, tetapi juga negara kecil. Faktor penyebabnya bisa beragam, mulai dari persoalan internal seperti adanya kelemahan dalam faktor kepemimpinan sampai adanya upaya pemisahan (separatis) dari wilayah bawahan. Sedangkan factor eksternal bisa berupa invasi militer atau campur tangan asing dalam bentuk sosial, ekonomi dan politik.

Bagaimanapun setiap negara yang merasa kuat, pasti memiliki kepentingan terhadap negara di sekitarnya. Bahkan terhadap negara yang lokasinya jauh sekalipun, jika sekiranya dianggap memiliki potensi tertentu. Sebagai gambaran bagaimana invasi yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan kawan-kawannya terhadap beberapa Negara di Timur Tengah, tak lain karena persoalan jaminan masa depan energi semata. Dengan dalih atau alas an yang direkayasa sedemikian rupa, sehingga invasi itu terkesan tidak melanggar aturan.

Hikmah dan pembelajaran dari diselenggarakannya KTT Asean ialah ternyata bahwa sepuluh negara di Asia Tenggara itu dahulunya pernah menjadi bangsa dan negara yang satu, dengan satu pemimpin, dengan kesatuan visi dan misi. Kalau digabungkan Asean memiliki luas hampir 4,5 juta kilometer persegi, dengan jumlah penduduk lebih dari 500 juta orang. Dalam hal ini melebihi luas wilayah dan jumlah penduduk Uni Eropa.

Di Kawasan Asean perlu ada upaya untuk menghindari konflik internal supaya hubungan antar negara berlangsung harmonis. Selain itu, kawasan ini bisa berkembang lebih maju dan sanggu penyaingi kawasan lain. Saat ini konflik internal terjadi di antara bebera negara Asean, seperti antara Thailand dan Kamboja. Jika dibiarkan berlarut-larut maka tak mustahil akan dijadikan alasan negara-negara tertentu untuk ikut campur tangan yang seolah-olah membawa misi perdamaian, sebagaimana terjadi di Afganistan, Irak, Libya dan sebagainya.

Dilihat dari luas wilayah dan jumlah penduduk, maka Indonesia merupakan komponen terbesar di Asean. Dengan sendirinya peranan Indonesia harus lebih eksis. Kepemimpinan Indonesia di kawasan regional Asean harus lebih efektif dan proaktif.

Hal yang lebih penting ialah beragam kasus disintegrasi pada era sebelumnya, baik yang terjadi di kawasan Asia Tenggara maupun di belahan dunia lainnya, selayaknya menjadi bahan pembelajaran yang penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagaimanapun NKRI memiliki potensi disintegrasi yang besar, mulai dari bentuk negara yang terdiri dari 17.504 pulau, adanya beragam suku bangsa, bahasa dan latar belakang budaya, infrastruktur politik yang lemah, persoalan carut-marut hukum, dan sebagainya. Dalam hal ini aspek kepempimpinan nasional menjadi faktor penentu keutuhan NKRI. Rakyat Indonesia yang saat ini berjumlah 237 juta jiwa, tersebar di 33 Propinsi, 399 Kabupaten dan 98 Kota, sangat memerlukan pengayoman atau naungan, yaitu berupa pemerintahan yang kuat, bersih dan berwibawa.

Kalau dilihat dari luas wilayah dan jumlah penduduknya Indonesia termasuk negara yang besar. Untuk jumlah penduduk termasuk 5 besar dunia, sedangkan luas wilayah termasuk 10 besar dunia. Sudah selayaknya pemipin Indonesia pun harus masuk minimal 10 pemimpin besar dunia. Faktor kepemimpinan bangsa memang begitu menentukan, supaya bangsa dan negara Indonesia mendapat kedudukan terhormat di tengah-tengah bangsa dan Negara di dunia.

Pemimpin Indonesia harus mengedepankan ke-indonesia-annya. Misalnya dalam forum-forum internasional, seperti KTT Asean, pemimpin Indonesia dalam mengemban visi dan misi bangsa dan negara, harus menggunakan Bahasa Indonesia. Ya, karena Bahasa Indonesia merupakan salah satu bahasa besar di dunia.

Perhatikanlah berbagai situs web sepuluh besar dunia seperti Google, Facebook, Yahoo dan Wikipedia menyediakan fasilitas Bahasa Indonesia. Ya, karena Bahasa Indonesia penggunanya mencapai ratusan juta orang . Oleh sebab itu, Pak Presiden, gunakanlah Bahasa Indonesia saat anda sedang mengemban atau menjalankan visi dan misi bangsa dan Negara.

Bagaimanapun, Indonesia adalah bangsa, negara dan bahasa yang besar. Dengan cara seperti itulah Indonesia akan terkesan lebih eksis, lebih besar dan lebih kuat, sehingga NKRI bisa terhindar dari disintegrasi. (Atep Afia).


2 comments:

  1. Kurniyanto Bayu Anggoro
    @E02-Bayu, @Tugas B05
    Pemerintah yang seharusnya mengambil peran utama untuk mencegah terjadinya disintegrasi.

    ReplyDelete
  2. @E34-Sylvana, @Tugas B05
    menghandle bangsa yang besar bukanlah perkara mudah, banyak persoalan yang muncul ketika aneka kepentingan dibenturkan dalam momen yang bersamaan terlebih lagi jika bangsa tersebut ditunggangi asing dan aseng yang memang menginginkan desintegrasi agar terjadi hal-hal yang mereka inginkan namun tidak diinginkan oleh bangsa kita semisal peperangan dan perpecahan wilayah, banyak ancaman yang mengintai indonesia baik dari dalam maupun dari luar, maka dari itu kita dan tni serta pemerintah harus memposisikan diri sebagai unsur bangsa yang tinggal dan melindungi bangsanya agar tidak di bombardir oleh kepentingan asing yang dapat memecah belah bansa indonesia

    ReplyDelete