.

Apr 20, 2013

Pendidikan Setengah Mateng


Oleh : Atep Afia Hidayat - Pendidikan adalah sebuah proses, bagaimana menumbuh-kembangkan peserta didik kearah kondisi yang lebih matang. Dengan kata lain, supaya seseorang menjadi matang aspek-aspek kemanusiaannya harus  melalui proses pendidikan. Namun proses pendidikan yang berlangsung dinilai belum menyentuh segenap aspek kemanusiaan. Hanya sebagian sisi kemanusiaan saja yang dipoles dan diisi, sehingga muncul kondisi pendidikan setengah mateng (baca: matang).

Kenapa pendidikan setengah mateng dan tidak mateng penuh ? Ada beberapa faktor penyebab. 

Pertama, kurikulum yang dirancang kurang lengkap dan tidak bersinggungan langsung dengan proses dan dinamika kehidupan peserta didik. Kurikulum pendidikan yang bersifat mengambang menyebabkan keluaran proses pendidikan tidak siap menghadapi kehidupan nyata. Ada jurang yang melebar di antara muatan pendidikan  (teori) dengan aplikasi di masyarakat. Dengan kata lain link and match antara pendidikan dan kehidupan nyata tidak tercapai.

Sebenarnya hakikat pendidikan adalah sebuah proses untuk memenuhi kebutuhan peserta didik itu sendiri. Sementara ada beberapa perguruan tinggi yang menuliskan visi dan misinya untuk memenuhi kebutuhan industri. Terlalu ! Bagaimana jadinya proses pendidikan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan industri.  Ada kesan terjadinya eksploitasi sumberdaya manusia tanpa memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Manusia seperti sejajar dengan mesin atau robot, upaya peningkatan kualitasnya hanya sekedar untuk kebutuhan industri.

Sebagai akibat dari penentuan visi dan misi yang keliru, maka kurikulum yang dibuat menjadi terkesan kurang humanis, lebih cenderung kapitalis dan sekuler.

Kedua, institusi pendidikan baik berupa sekolah atau perguruan tinggi yang cenderung “diseragamkan”. Padahal idealnya setiap institusi pendidikan memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri, tergantung pada kearifan local dan warna institusi itu sendiri. Kebijakan pemerintah menyangkut penyeragaman sudah selayaknya ditinjau ulang, mulai dari hal seperti pakaian. Ada baiknya mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah pertama, menengah umum dan kejuruan tidak diberikan kewajiban seragam sekolah. Bagaimanapun seragam identik dengan penghambatan kreatifitas dank ke-aneka-ragaman. Pada hakekatnya manusia dilahirkan dengan ke-aneka-ragaman, bahkan pada yang kembar sekalipun, tentu ada bedanya.

Seharusnya setiap sekolah atau perguruan tinggi dipacu untuk memiliki keunggulan, keunikan dan ke-khas-an tersendiri. Di sekolah menengah pertama dan umum sekalipun, perlu ada kreatif masing-masing, apalagi di sekolah menengah kejuruan. Bahkan mulai dari sekolah dasar prinsip ke-aneka-ragaman sudah diterapkan. Setiap siswa SD adalah manusia yang unik, dengan obsesi, fantasi dan bakat masing-masing. Perlu ada bimbingan dan konselor sejak dini untuk mengarahkan pada upaya pematangan nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan. Dalam hal ini posisi guru sangat menentukan, maka aspek kualitas guru menjadi penentu. Proses pendidikan tahap awal adalah yang terpenting, selayaknya untuk jenjang pendidikan SD dipegang oleh guru-guru yang kapabel dan professional.

Ketiga, aspek pendidik yang kurang mumpuni. Hal ini meliputi faktor kemampuan dan atau keseriusan. Ada guru yang mampu dan serius, mampu tapi tidak serius, tidak mampu tapi serius, serta tidak mampu dan tidak serius. Proporsi untuk guru yang mampu dan serius menempati posisi kerucut pada sebuah piramida. Dengan kata lain pendidik yang mampu dan serius tergolong minoritas. Hal inilah yang menyebabkan kemampuan lulusan berada di bawah standar.

Keempat, aspek infrastruktur pendidikan. Bagaimanapun proses pendidikan memerlukan infrastruktur yang memadai, mulai dari bangunan  sekolah, perlengkapan sekolah, termasuk kemudahan transportasi menuju sekolah. Kondisi saat ini, jangankan di luar Pulau Jawa, di Pulau Jawa saja masih banyak sekolah yang kondisinya memprihatinkan. Di beberapa tempat proses belajar mengajar berlangsung di sebuah bangunan  darurat, bahkan ada yang mirip kandang kambing. Anggaran pendidikan di Negara kita sebenarnya tergolong besar, selayaknya tidak ada kebocoran dalam pemanfaatannya.

Setiap peserta didik harus mendapatkan hak-haknya secara penuh, termasuk mendapat pendidikan yang berkualitas. Jika proses pendidikan berlangsung secara setengah mateng, maka bagaimana jadinya nasib bangsa ini di masa mendatang, tentu selalu kalah dan kalah dalam persaingan. Oleh sebab itu pendidikan perlu di renovasi dan di reformasi, supaya bangsa kita memiliki kualitas yang matang. (Atep Afia/KangAtepAfia.com). 
 

4 comments:

  1. memang sepertinya perlu sertifikasi kualitas guru dan dosen, agar kualitas pendidikan di Indonesia full tidak setengah-setengah.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Benar sekali pak, Harusnya Kualitas Guru ataupun Dosen yang mengajar mempunyai Kualitas yang Baik dan semangat untuk Memajukan sekolah dan menanamkan semangtbagi Mahasiswa atau pun muidnya lebih mempunyai Keahlian dan kelebihan yang bisa diandalkan.

    ReplyDelete
  4. @C33-TRI, TUGAS TC05

    Mungkin bisa jadi semua aspek harus di benahi. Yang paling penting adalah dari Dosen atau Guru pengampunya sendiri. Kualitas penyampaiannya harus ditingkatkan, dalam penyampaian materi yang mempermudah mahasiswa atau pelajar mudah menangkap dan memahaminya. Setelah itu dari segi kurikulumnya, materi-materinya setidaknya menggunakan bahasa yang mudah di pahami oleh mahasiswa ataupun pelajar. Tidak hanya itu, mungkin dari segi mahasiswa dan pelajar sendiri juga harus ditingkatkan agar semangat dalam belajar dan tidak malas-malasan.

    ReplyDelete