.

Apr 22, 2013

Bumi Makin Berdebu dan Beracun


Oleh : Atep Afia Hidayat - Planet bumi sudah diselimuti debu dan racun. Itu tak dapat disangkal lagi, bahkan konsentrasinya makin tinggi. Bumi makin pengap, tak heran beribu-ribu spesies flora dan fauna punah, tanpa menyisakan keturunannya sama sekali. Sebagian dari mahluk hidup penghuni bumi itu sudah tak tahan lagi karena kondisi lingkungan tempat tinggalnya (habitat) yang mengalami kerusakan.

Kita mengetahui dari catatan paleontologi atau arkeologi, beberapa binatang tertentu kini tak ditemukan lagi. Selain itu, ada beberapa jenis binatang yang begitu ketat dilindungi undang-undang, karena populasinya tinggal sedikit saja sehingga dikhawatirkan akan segera punah.

Jumlah species flora dan fauna menyusut, sebagian karena proses alam, sedangkan sebagian lagi akibat ulah manusia. Manusia memburunya untuk keperluan hidup seperti dijadikan bahan pangan atau sandang, bahkan hanya sekedar kesenangan. Hingga saat masih banyak orang yang berburu hanya sekedar “hobi”.

Menembaki binatang di hutan hanya demi mengukur kemampuan dalam menggunakan senjata, atau ada juga untuk sekedar “berolahraga”. Olahraga dengan cara mengejar, mencederai dan membunuh binatang amat tidak etis, apalagi jika yang menjadi obyek buruan merupakan binatang langka yang dilindungi undang-undang. Manusia secara terus menerus merampas habitat flora dan fauna.

Konsentrasi debu dan racun semakin pekat di seluruh ekosistem seiring dengan makin bertambahnya polusi udara dan pencemaran perairan. Di kota-kota yang padat industri dan kendaraan bermotor, penduduknya lebih banyak terserang penyakit yang diakibatkan oleh pengaruh debu dan racun, seperti penyakit paru, gangguan pernafasan, penyakit mata dan kanker kulit.

Kelompok masyarakat yang memiliki resiko tertinggi ialah polisi lalu lintas, pedagang kaki lima, dan sopir angkutan kota, karena sebagian besar waktu dihabiskan di pusat-pusat keramaian kota yang terus menerus “ditaburi” debu dan “disemprot” gas yang berasal dari sisa pembakaran kendaraan bermotor. Apalagi di jalan-jalan yang sering mengalami kemacetan.

Sampai saat ini masih banyak industri dengan seenaknya membuang debu atau limbahnya tanpa proses penyaringan dan pengolahan terlebih dahulu. Dalam berbagai bahan buangan itu terdapat senyawa kimia yang sifatnya meracuni penduduk di sekitarnya. Masih ada pengusaha atau pengelola industri tak memperhatikan kepentingan dan keselamatan orang banyak, debu dan racun yang dibuangnya mengakibatkan dampak negatif bagi kesehatan penduduk. Pengusaha yang demikian sebaiknya ditindak tegas, mengingat aktifitasnya cenderung bersifat “kriminal”. Akibat ulahnya itu bisa mencederai dan mematikan orang di sekitarnya. Perbuatan tersebut bisa dikatakan “merampas kenyamanan hidup orang banyak” atau “mengancam kelangsungan hidup orang banyak”.

Di bumi terdapat milyaran sumber-sumber pencemaran udara, mulai dari kendaraan bermotor, mesin-mesin pabrik, kompor, tungku, dan alat pembakaran lainnya. Selain itu ratusan gunung berapi memuntahkan debu dan bahan beracun. Masih ada ancaman potensial terhadap kenyamanan dan kelangsungan bumi, yakni persenjataan militer yang dimiliki oleh hampir setiap negara. Mulai dari senjata ringan hingga yang berat, bahkan beberapa negara memiliki persenjataan nuklir.

Seluruh persenjataan jika dipergunakan tentu saja bisa meningkatkan konsentrasi debu dan racun di bumi. Dalam perang tertentu, penggunaan senjata kimia sudah tak ditabukan lagi. Dampak senjata kimia tak lain menimbulkan “proses peracunan”, mulai dari racun yang mengganggu sel-sel pada kulit hingga yang mengganggu sel saraf. Perang dingin dan persaingan antar blok telah usai, namun belum berarti bumi telah terbebas dari ancaman perang, kenyataannya perang masih terjadi di berbagai belahan bumi, seperti yang saat ini terjadi di Libya.

Jika konsentrasi debu dan racun di bumi sudah melampaui ambang batas, kehidupan manusia pun terancam. Diperlukan upaya pengungsian besar-besaran ke planet yang layak huni. Dalam hal ini kita patut merenungkan tentang kondisi di planet-planet tetangga bumi yang sudah tak berpenghuni lagi. Mungkinkah telah terjadi kerusakan sebagaimana di alami bumi saat ini ? serta mungkinkah kerusakan itu yang menyebabkan seluruh spesies di planet tersebut musnah ? (Atep Afia).





11 comments:

  1. Akan ada waktunya planet ini akan "menyembuhkan" dirinya sendiri dengan "caranya sendiri"...

    ReplyDelete
  2. Polusi, itulah sebab utama dari segala macam sebab bumi semakin tercemar dengan segala macam sisa limbah, hal tersebut membuat kita sebagai penghuni bumi semakin terancam kehidupannya karena udara, air, tanah semakin lama semakin tercemar dan membuat segala unsur tersebut rusak apabila semuanya sudah tercemar mau dimana lagi kita tinggal?

    ReplyDelete
  3. pencemaran bumi dapat kita cegah dengan cara melakukan tanam seribu pohon, pembatasan parbrik liar, menurangi kendaraan bermotor atau kenaraan mobil yang dapat menimbulkan asap yang mengepul di udara, melakukan reboisasi, membersihkan lingkungan, dan mengurangi pembanguan gedung yang kurang penting agar membuka lapangan hijau.

    ReplyDelete
  4. Menurut saya, polusi di muka bumi ini sudah terlalu parah. Dimana-mana kita sudah merasakan hujan asam dari asap kendaraan bermotor. Pohon-pohon yg ada di trotoar jalan juga tidak berfungsi dgn baik juga karna sudah terlalu banyak penggunaan kendaraan bermotor. Apalagi asap2 bus yg mesinnya sudah tidak layak pakai sehingga mengeluarkan asap yg sangat berbahaya bagi bumi maupun manusia. Harusnya pemerintah lebih gencar lagi melakukan uji emisi mesih kendaraan agar tidak ada lagi asap2 hitam yg mengepul. Reboisasi juga penting dan mengurangi penggunaan plastik, supaya bumi tidak tersakiti oleh global warming lagi.

    ReplyDelete
  5. Pencemaran udara yang telah terjadi dibumi ini sudah masuk dengan level yang mengkawatirkan. Pengalihan fungsi hutan menjadi pemukiman dan lain - lainya menjadi penyebab mengapa polusi udara menjadi semakin parah padahal kita tahu hutan menjadi salah satu hal yang paling Penting dalam mencegah terjadinya polusi udara. Selain udara yang sudah semakin berdebu pencemaran udara yang teerjadi juga sudah beracun bagi tubuh manusia contohnya saja asap karbon monoksida yang dapat menyebabkan gangguan pada tubuh jika dihirup oleh tubuh

    ReplyDelete
  6. Belakangan ini tumbuh keprihatinan akan efek dari emisi polusi udara dalam konteks global dan hubungannya dengan pemanasan global yg memengaruhi Kegiatan manusia, Transportasi, Industri, Pembangkit listrik, Pembakaran, Gas buang pabrik yang menghasilkan gas berbahaya.

    ReplyDelete
  7. Hindarai pengrusakan ekosistem di laut dan di hutan. Ini demi keberlangsungan anak cucu kita.

    ReplyDelete
  8. saat ini kondisi bumi sangat memperhatikan karena pemanasan global ( global warming ) akibat aktifitas manusia sendiri seperti asap kendaraan, industri, pembakaran lahan atau hutan, dll. akibatnya suhu bumi meningkat dan akan berdampak buruk bagi makhluk hidup didalamnya. apabila tidak ada pencegahan dan penyelamatan maka bumi akan beracun dan udara semakin berdebu sehingga tidak layak lagi untuk ditinggali.
    maka dari itu selamatkan bumi kita ini. Save Earth.

    ReplyDelete
  9. kondisi bumi yang panas akibat dari pemanasan global ini merupakan masalah yang timbul dari berbagai aspek dari segi industri maupun manusia sendiri. Mari kita jaga lingkungan sekitar kita dengan mengurangi polusi di udara Contoh : mengolah sampah di daur ulang jadi sampah tidak dibakar begitu saja.
    Mari selamatkan bumi demi masa depan kita semua :)

    ReplyDelete
  10. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  11. @C25-DINI, TUGAS TC-05

    Bumi semakin tua dan sekarat sehingga rentan terserang berbagai penyakit, penyebab terbesarnya adalah kita manusia, selain faktor alamiah. setidaknya, manusia telah berkontribusi "seminim-minimnya" terhadap pencemaran udara adalah dari emisi karbon dioksida yang dikeluarkan dari proses respirasi. Udara mungkin saja tidak terlihat, tetapi dapat kita rasakan dan dapat kita nikmati untuk dapat tetap hidup. Mungkin di luar kita terlihat sehat-sehat saja, tetapi di dalam tubuh kita sebenarnya tertimbun gumpalan debu dan kotoran yang tubuh kita tak sanggup lagi untuk "meyaringnya". Sudah sepantasnya kita memakai hati nurani dan pikiran yang jernih sebelum kita merusak lingkungan dan merugikan orang lain. Dengan nurani mampu kita tahan rasa keserakahan. Dengan nurani mampu kita mencintai dan menyayangi.

    ReplyDelete