![]() |
| Gambar : http://www.co.westmoreland.pa.us |
![]() |
| Gambar : http://www.co.westmoreland.pa.us |
![]() |
|
Gambar : http://assets.climatecentral.org |
![]() |
| Sumber : http://www.oceanairny.com |
![]() | ||
| Gambar : http://steve-lovelace.com |
Oleh : Atep Afia Hidayat - Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang memiliki luas wilayah daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2, pada tahun 2020 (sampai Desember) berpenduduk sebanyak 271.349.889 jiwa, sehingga kepadatan penduduknya 141 jiwa per km2.
Jumlah penduduk sebanyak itu terdistribusi di 34 provinsi dengan jumlah dan tingkat kepadatan yang sangat bervariasi. Jika dibandingkan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk, apakah jumlah provinsi sebanyak itu sudah memadai ? Hal tersebut perlu ditetapkan melalui perumusan grand strategy pemekaran wilayah, sehingga dapat diketahui berapa jumlah provinsi, kabupaten dan kota yang ideal di Indonesia.
![]() | |||
| Gambar : http://vetmed.illinois.edu |
Setiap
saat hampir semua orang cenderung “mencederai” atau “membuat luka”
ekosistem.Terjadi akselerasi kerusakan ekosistem yang begitu hebat. Memang ada
upaya untuk menghambat kerusakan yang kian parah, namun kebanyakan upaya masih
bersifat seremonial, masih cenderung lips-service.
Oleh : Atep Afia Hidayat
Dengan kelengkapan organ otaknya melalui fungsi berpikir, manusia mengeksploitasi lingkungannya. Namun proses eksploitasi ini seringkali melampaui batas, sehingga melampaui keseimbangan lingkungan. Ternyata manusia tidak cukup hanya berpikir, tetapi harus dilengkapi dengan berperasaan.
Sebenarnya setiap orang memiliki waktu yang begitu terbatas, pasti. Jumlah hari hidup (JHH) yang diberikan kepada setiap orang berbeda-beda, ada yang 70 x 365 hari, ada yang lebih dari itu, dan kebanyakan orang kurang dari itu.
Oleh : Atep Afia Hidayat
Setiap individu manusia dianugrahi beban tertentu dalam kehidupannya. Terdapat bermacam-macam tanggapan atau respon terhadap beban yang disandangnya. Antara lain ada yang menerima dengan jiwa lapang, ada yang “menambah berat” beban dan ada juga yang menganggap “enteng”. Umpamanya, seseorang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), maka tanggapannya terhadap beban tersebut, ada ayang menerima dengan logis, banyak pula yang mengalami stress.
Oleh: Atep Afia Hidayat
Ketika terjadi kontak dengan dunia nyata maka bekerjalah nalar kita, terjadilah persepsi dan penafsiran yang menimbulkan makna dan kesan. Persepsi itu sangat relatif dan amat subyektif. Perintahkanlah 100 orang untuk membuat penilaian terhadap seseorang, misalnya mengenai perangainya, penampilannya, atau kecantikannya. Niscaya hasil pengamatan tersebut akan memberikan 100 macam jawaban.