Kamis, April 25, 2013

Manusia dan Kebebasannya

Oleh ; Atep Afia Hidayat - Tuhan memberikan kebebasan kepada mahluknya yang bernama manusia untuk hidup sebebas-bebasnya ? Apakah setuju, tidak setuju, atau ragu-ragu dengan pernyataan tersebut. Hak setiap orang untuk berbeda pendapat dan tidak memaksakan pendapat kepada orang lain. Bahkan para Nabi dan Rasul diutus untuk “menyampaikan” pesan Tuhan, dan bukan “memaksakan”.

Abal-abal atau Sungguh-sungguh

Oleh : Atep Afia Hidayat - Segala sesuatu memang butuh keseriusan, bahkan bernafas pun harus serius. Ada cara-cara bernafas yang baik, ada bernafas yang ala kadarnya. Dampaknya jelas berbeda, karena perbedaan kebiasaan bernafas, maka hasil yang dituai oleh orang yang bernafas dengan benar, badan akan berasa lebih segar, pikiran dan perasaan lebih jernih. Sebaliknya, akibat seseorang memiliki kebiasaan bernafas yang buruk, maka badannya pun akan loyo, cepat lelah dan mudah ambruk, sementara pikiran dan perasaan berasa buram.

Bahasa Nurani Makin Terkikis

Oleh : Atep Afia Hidayat - Manusia dalam arena kehidupan “ditakdirkan” untuk bersuku-suku, berkelompok, dan berbeda dalam banyak hal. Sepertinya heterogenitas ini merupakan “ciri umum” dari arena kehidupan. Tetapi, jika dikaji secara cermat, ternyata dibalik heterogenitas itu terdapat homogenitas. Manusia memang berbeda-beda, tetapi memiliki banyak kesamaan, antara lain sama-sama diciptakan dari tanah, sama-sama merasa haus dan lapar, serta sama-sama memiliki bahasa hati dan bahasa nurani !

Beban dalam Kehidupan

Oleh : Atep Afia Hidayat - Setiap individu manusia dianugrahi beban tertentu dalam kehidupannya. Terdapat bermacam-macam tanggapan atau respon terhadap beban yang disandangnya. Antara lain ada yang menerima dengan jiwa lapang, ada yang “menambah berat” beban dan ada juga yang menganggap “enteng”. Umpamanya, seseorang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), maka tanggapannya terhadap beban tersebut, ada ayang menerima dengan logis, banyak pula yang mengalami stress.

Boikot dalam Kehidupan

Oleh : Atep Afia Hidayat - Boikot tak lain dari penolakan untuk berbicara, bergaul, atau berperan serta dalam suatu kegiatan. Terdapat tipe manusia yang didominasi oleh pemboikotan terhadap hal-hal yang kurang berkenan. Ia memboikot orang lainnya, baik menyangkut penampilan, pembicaraan atau pemikirannya. Pemboikotan itu bisa diakibatkan oleh pribadinya yang tertutup, kurang adaptif dan kurang fleksibel.

Sebelum Uzur

Oleh : Atep Afia Hidayat - Sifat uzur itu dikenakan pada setiap mahluk hidup, begitu pula dengan manusia. Selain diberikan daya, potensi dan kelapangan. Suatu saat akan dikenai berbagai rintangan, kelemahan atau sakit-sakitan. Tak ada seorang pun yang bebas sama sekali dari sifat uzur. Ya, yang namanya mahluk, bagaimanapun tak bisa lepas dari berbagai hukum dan segala ketentuanNya.

Pentingnya Semangat dan Gairah Hidup

Oleh : Atep Afia Hidayat - Begitu monoton, tak bergairah dan tidak menimbulkan kesan. Daya tarik itupun tak muncul, tidak membangkitkan perhatian orang-orang di sekitar. Bahkan, ironisnya selera atau semangat hidupnya teramat minim, hingga kehidupan dijalani dengan sikap yang statis. Semangat hidup itu entah pergi kemana, ia seperti kehilangan harapan, seperti tidak memiliki ambisi. Lantas, jika demikian, apa yang akan dicari dalam panggung kompetisi yang sangat ketat ini?

Bergaul dengan Sambung Rasa

Oleh : Atep Afia Hidayat -Dalam pergaulan sehari-hari mis-comunication dan mis-feeling sering terjadi. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks. Dampak yang ditimbulkannya beragam, mulai dari sebatas tersinggung, hingga mengakibatkan perang antar negara, yakni tatkala dua orang kepala negara berbeda pendapat atau berselisih paham.

Skenario dalam Kehidupan

Oleh : Atep Afia Hidayat - Kehidupan indetik dengan panggung sandiwara. Ada skenario, aktor, dan sutradaranya. Seorang aktor atau aktris memiliki skenario masing-masing, dan harus diungkapkan melalui adegan serta dialog. Setiap aktor atau aktris boleh berimprovisasi dalam adegan dan dialognya, asalkan tidak menyimpang dari skenario. Jika menyimpang, maka Sang Sutradara akan berteriak, “cut…!”.

Kehidupan dan Jebakannya

Oleh : Atep Afia Hidayat - Ada orang-orang tertentu yang menganggap kehidupan ini diliputi jebakan-jebakan. Entah itu yang namanya dosa, nasib sial, kecelakaan atau kematian. Konon kematian merupakan jebakan terbesar, yang tak lain merupakan “sisi lain” dari kehidupan. Jadi kehidupan dan kematian seperti mata uang logam dengan dua sisinya. Begitu samar batas antara kehidupan dan kematian, setiap orangpun tak tahu, kapan hari “h”, jam “j”, menit “m” dan detik “d” nya. Hanya sebelum saat itu tiba, kita harus berbuat sesuatu, yakni supaya kita tidak merasa “terjebak”.

Berpijak pada Realitas

Oleh : Atep Afia Hidayat - Apa yang dimaksud dengan realitas ? Bagaimanakah realitas itu ? dan adakah realitas itu ? Realitas tak lain dari fakta yang terjadi dan dapat dibuktikan. Manusia dengan kelengkapan inderanya dapat memahami fakta-fakta alam dalam wujud fisik, misalnya matahari dan bintang yang menurut indra mata manusia memancarkan cahaya. Atau bunyi ada frekuensi yang terjangkau oleh telinga manusia. Atau wujud benda-benda lain yang memiliki masa dan volume.

Tebar Pesona

Oleh : Atep Afia Hidayat - Pesona itu muncul begitu lugas, spontan, dan tidak dibuat-buat. Terpikat, tertarik hingga terpedaya. Bahkan, muncul seketika, dalam situasi dan kondisi kejiwaan yang tertentu. Lantas, bisakah pesona itu diciptakan dan dikelola? Masih wajarkah atau murnikah? Serta, apakah menimbulkan kesan mendalam yang masih lugas?